Label

Minggu, 25 Februari 2018

Hama

Maaf...
Tadi tak sengaja aku merinduimu
Aku sempat mengintip jendela diujung kamar
Berharap bayangmu lewat sebentar
Namun senja tak jua berkabar
Ia hanya memintaku untuk lebih sabar

Tapi kau jangan khawatir
Sekarang aku sudah menyesal

Wahai...
Aku bukanlah bunga yang cepat mekar
Jangan kau siram
Atau aku akan dendam

Tragedi Penculikan

Masa transisi adalah masa-masa (belajar) mengenalmu. Segudang ego yang sangat senang berkeliaran dalam benak dan khayal akan segera pupus, sebab aku harus sesegera mengenalimu lebih dekat. Pasalnya, sangat sulit untuk membukakan pintu bagimu.
Namun setidaknya kini aku benar-benar (sedikit) sadar bahwa mengenalimu adalah wajib.
Kau adalah ibadah terpanjang dalam hayat..

Kusemogakan ku mengenalmu dengan orang yang tepat, agar aku bisa kembali belajar denganmu..
Doain, kami sedang sama-sama belajar dan memperbaiki diri untuk menemuimu..

Temu tanpa Tuan

Ia mempertemukanku denganmu dalam kelu
Tanpa tuan bahkan kata sapaan
Dari ujung jendela ada bisik angin yang rentan
Memintaku untuk mundur perlahan

Aku sempat heran
Kau datang tanpa tuan
Memberi bimbang dan sejuta kekhawatiran

Kusemogakan kau segera berkenan
Membuka kembali sempat dan harapan
Bukan untukku
Namun ia yang lama termangu menantimu

Kamis, 22 Februari 2018

Menjadi Bunda


Menjadi Bunda..
Adalah penjelajahan pemula yang berangkat dari sebuah keterpaksaan, berkecimpung dalam masa tak sebentar untuk memilih jalan. Antara pertentangan dan sebuah penerimaan, terjebak semakin dalam sehingga pelupuk tak henti mencari aliran sungai kecil.
Adalah menjadi orang serba bisa, hal pertama yang harus dikuasai adalah bisa menerima atas ketetapan yang ada didepan mata, termasuk menjadi bunda itu sendiri.
Adalah dimana harus tau dan paham segala kebutuhan dan keinginan anak-anaknya, hingga dengan mudah dapat memadukan rasa dan warna.
Adalah dimana mata terjaga berkata iya, meski raga mengeluh diam.
Adalah dimana aku harus menjadi tau tentang segala hal, bahkan sesuatu yang sangat menakutkan bagi diri.
Adalah melepaskan identitas sebelumnya, apapun itu. Karena nurani tak ingin menyakiti lensa yang lain maka sejenak lepas identitas awalmu tanpa harus melupakannya.
Adalah saat kondisi menjadi buntu dan aku harus tetap ada. Dengan segala keterbatasanku, aku siap dan harus bisa dengan segala kondisi..
Adalah menjadi yang paling tahu dengan segala bentuk penyakit dan harus mencoba mencari penawarnya dengan segera..
Adalah mendengar segala ekspresi. Tangis, tawa, tegang, canggung, semua rasa akan bertarung dalam semua ruang. Dan tiada pilihan lain, selain bertahan dan mencoba tegar.
Adalah menjadi seseorang yang siaga paling depan ataupun belakang, memastikan semua anak-anaknya sampai tujuan seperti yang diharapkan.

Menjadi Bunda..
Adalah menjadi pencemburu. Ya, cemburu saat melihat anak-anaknya lebih nyaman berbagi dengan yang lain, lebih asyik bercerita dengan yang lain. Itu hanya rasa tanda cinta, karena menjadi pencemburu pun bukan berarti menutup pintu untuk yang lain. Sebab kebutuhan dan kebahagiaan anak tetap menjadi yang utama.
Adalah menjadi orang paling rempong saat mendengar sesuatu terjadi pada anak. Sekalipun bunda belum dapat solusi, namun ia harus menjadi garda terdepan memberikan ketenangan bagi anaknya.
Adalah menjadi orang paling khawatir. Kekhawatiran yang kadang tiada berlandas pun selalu berkeliaran tanpa mengenal tuan. Khawatir saat harus meninggalkan anaknya dengan waktu agak lama, sekalipun itu tak diinginkannya.
Adalah menjadi orang paling punya. Sebab, harus selalu ada saat anak meminta sesuatu apapun dari kita. Maafkan daris, mba belum bisa bantu bayarin.
Adalah akumenjadi yang lain dalam masa-masa tertentu. Tak mampu memberi lebih, namun mencoba memberi apa yang kita punya.
Adalah bersembunyi dibalik topeng yang tebal,
Adalah bersiap untuk berada diruang sepi, ketika anak-anak harus terus bahagia. UG AH.
Adalah menikmati kebahagiaan dibalik huruf-huruf yang semakin mendekat dan membunuh..
Adalah menjadi sangat penakut. Takut akan hal apapun yang tengah dialami dan dirasakan oleh anak-anakku.

Menjadi Bunda..
Adalah menjadi seseorang yang sangat cengeng. Aku sangat mudah menangis saat anakku tidak sedang baik-baik saja, adik, kau kenapa? Namun lagi-lagi aku akan berhenti menjadi reporter.
Adalah menjadi seseorang yang sangat penakut. Aku selalu takut akan sesuatu apapun yang terjadi pada anak-anak dan (lagi) aku tidak mengetahuinya.
Adalah menjadi seseorang yang penuh kekhawatiran. Saat anaknya tidak menemui kondisi yang tidak ideal, maka aku akan sangat tersiksa dengan penuh kekhawatiran. Maafkan perjalanan Banjarnegara kemarin yaa...
Adalah menjadi seseorang yang memiliki stok kepercayaan yang tiada batas. Bagaimana menyeimbangkan kekhawatiran dengan rasa percaya yang diberikan bunda pada anak, itulah yang membuat seorang bunda dilematis. Mulai detik ini aku (sangat) percaya nak, nitip 3 peperangan kita esok yaa.
Adalah menjadi seseorang dengan penuh rasa bersalah. Rasa itu tidak pernah enyah dari diri bunda, sebab jika sebagian nafasnya terluka karena apapun itu tetaplah aku yang menjadi garda depan atas luka itu.
Adalah meluangkan selruh waktu untuk proses pertumbuhan semua anak-anak kita. Hingga kita bisa menjadi tempat pertama bagi mereka kala suka dan dukaa.
Adalah bersiap menjadi tong sampah yang siap menampung meski sudah penuh, atau menjadi tukang sampah yang membersihkan sekeliling rumah..
Adalah menjadi yang memiliki banyak kacamata, bukan untuk bermain mata melainkan menjaga mata-mata tajam agar tetap terjaga..
Adalah hal yang tidak terprediksikan. Sebab semua kondisi bisa jadi datang dalam satu waktu.

Menjadi Bunda..
Adalah berjuang melawan ego sendiri, sebab kadangkala tak sering menjadi aku yang sesunguhnya. Selalu saja menjadi aku yang dibutuhkan banyak orang, tapi itulah yang membuat kita bahagia.
Adalah belajar menjadi timbangan. Mengukur dengan cermat segala hal yang harus dipikirkan, dan diseimbangkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Adalah siap menjadi umpan, sebab kita akan menuai hasil panen yang banyak untuk dinikmati.
Adalah harus selalu menjadi teladan seperti yang diinginkan.
Adalah memberi makna tanpa diminta. Tersebab perjalanan yang melenakan dan melelahkan maka bertahanlah.
Adalah belajar sabar sepanjang masa.
Adalah belajar memberi ruang.
Adalah berteriak memohonkan yang terbaik untuk setiap anak.
Adalah hal melelahkan yang kadangkala hanya membuatmu terdiam, merenung, menangis, lalu tersenyum tak percaya.
Adalah menjemput kesiapan-kesiapan yang menjauh.
Adalah membisu dalam kondisi ramai.
Adalah mencari jalan. Jalan mana yang akan membelajarkan anak secara efektif, menumbuhkan mereka dengan apa yang sudah mereka miliki.
Adalah menjeda intonasi. Bersembunyi di forum bukan solusi, sebab apa yang dia kata akan berimbas kepada semua anaknya. Maafkan teteh Nu, karcis dan samurai.

Menjadi Bunda..
Adalah menjaga ritme. Tarik ulur yang dilakukan kepada sang anak harus seimbang, agar tidak sampai jatuh dan/atau terlalu tinggi.
Adalah menjadi kurir. Berbagi, menunggu, mencari, berbicara kesana kemari, sedikit aneh namun ikhlas dan ridho harus selalu dalam genggaman.
Adalah menjadi subjek dan objek.
Adalah memiliki cermin yang besar, untuk mengevaluasi segala tutur dan tindak dalam keseharian.
Adalah menjadi pemilik kantong sabar yang besar, untuk segala hal.
Adalah kurir undangan tak berbayar, yang semoga menyampaikan pesanNya dengan khidmat.
Adalah mengelabui kondisi. Menyulam setiap simpul (harus) menjadi bahagia.
Adalah menyembungikan rasa, menerangkan gulita.
Adalah pemikul sampah yang harus didaur ulang menjadi benda yang lebih bermanfaat serta membberi bahagia.
Adalah menjadi penimbun banyak rasa.
Adalah membuka pintu lebih sering dari biasanya.
Adalah belajar tentang kelapangan yang seutuhnya.
Adalah mengumpulkan kekuatan super.
Adalah bersahabat dengan rasa gagal dan rasa bersalah, atas segala sesuatu tentangmu.
Adalah menjadi penuh ketakutan, takut gelagapan menemui masalah yang ada padamu.

Menjadi Bunda..
Adalah menjadi selalu siaga dalam tidur ataupun bangunnnya kita.
Adalah selalu menh-on-kan sepuluh jari yang kita punya, sebab lewat itulah pesan-pesan sampai pada mereka.
Adalah pemilik kaki yang kokoh. Berjalan kesana kemari tak karuan, mencari yang harus dipenuhi keluarga.
Adalah belajar menjadi partner yang baik, harus selalu belajar mengerti. Dalam kondisi apapun itu.


Daba jbjdbjhskhbhjdjbbhbb dhehbbdhbhsvcvshdvhbcvsmbhdksosbhbdbxnbxbjhhbhfghfjhgdhdgfh
Nnjdbjdjdgncbhg7tdrdddcgycuhfcvc fxzd  gtfcbcctxchdhvcsgcfecdfcgdhvdg bcbhhj phuvgcvfscgvihbvbmvbcjvjbdchnnvhjxbcnc njghcnv  (saya tidak ingin menghapus coretan ini. Ini adalah coretan keresahan pertama saat saya menjadi bunda, di ruang multazam pada malam itu)

Kisah  klasik 2017

Senin, 19 Februari 2018

Menjagamu

Aku menjagamu dalam setiap bait doa yang aku minta..
Sesekali hujan deras mengalir tersebab rindu
Juga peran tanganku yang takkan sampai lagi padamu
Namun aku sudah berdiri pada yakin yang kokoh
Bahwa kau lebih kokoh dari karang yang tak terhempas ombak

Kau menjadi cahaya
Memerankan aktor utama dalam setiap episode
Sedang aku menjadi penonton yg kehabisan tisu
Terharu dan bahagia melihat setiap adegan juangmu

Aku menjagamu dalam setiap doa
Dan kau takkan pernah mendengarnya
Kusemogakan kemudahannya sampai padamu yg tiada alpa dalam juang

Sabtu, 17 Februari 2018

Pupus

Kau mengembalikan ingatanku
Tentang gemerlap malam dan seluruh kenang
Tentang perjalanan dan seluruh angan
Kau mengucap ejaan dalam setiap bait perjumpaan

Akan kupersembahkan puisi malam
Untukmu yg tak kunjung mengetuk pintu rindu
Untukmu yang terbuai dalam dinding tanpa temu
Untukmu yg perlahan menghapus satu persatu huruf namaku dalam puisimu

Akan kukisahkan sajak perpisahan
Menceritakannya pada semesta
Tentang kisah kau
Yang tak bangkit dari luka yg kugores
Tentang makna kita
Yang hilang sebab saling bersembunyi
Tentang kenangan
Yang pupus sebab maaf yg tak berkelanjutan

Sepucuk maaf

Aku sedang mengeja kerinduanmu
Tak terdefinisikan seperti aliran air
Mengalir tanpa aturan
Namun memiliki muara

Aku sedang mendefinisikan diammu
Mengejar bayangmu yang semakin semu
Menemuimu dalam setiap malamku
Menapaki kenang yang tlah dilalui
Namun tak kunjung temu dengan damai

Segeralah berikan aku sepucuk maaf
Agar aku dapat menggenggam kembali janjimu
Yang sejak saat itu retak kau rusak
Dan menjadikan tembok besar antara kita