Sejuta detik telah hilang, dan aku
masih terdiam dalam jarum yang mematikan. Hendaklah arah ini dibawa terbang
angin dengan penuh kehampaan. Entah sampai mana. Entah sampai kapan. Entah akan
bagaimana. Sudah cukup sampai dalam ujaran yang tak berkesinambungan, hingga
aku pamit undur diri dengan rasa bersalah yang berlumuran memenuhi diri. Aku ingin
menjadi pohon yang sempurna, namun aku kehilangan pijakan untuk tumbuh.
Jika esok kau akan memelihara
pohon, maka janganlah sesekali kau membiarkannya tumbuh menjulang tinggi namun
rapuh. Akar yang terlihat kuat hanya simbol yang menjadi keangkuhan, daun yang
rindang hanya menjadi pelindung untuk menutupi kelemahan, batang yang terlihat
kokoh yang perlahan digerogoti rayap karena kelalaian dan keegoisan, dan buah
yang ada hanya menjadi simalakama yang tak dapat dinikmati banyak orang. Jangan.
Tumbuhlah untuk menumbuhkan, bukan melumpuhkan.
Menata ulang yang telah lampau. Meski
yang telah rapuh belum tentu akan sembuh, hanya menjadi penawar sejenak untuk ia
yang tengah terluka parah. Namun aku
diingatkan dengan satu lingkar yang menerka kata, bahwa seterluka apapun,
sesempoyongan apapun, sampai kau terjatuh, kau terlelah, kau terluka parah,
bahkan sampai terkoyak koyak dalam setiap jalan juang maka itu adalah
tabunganmu untuk akhir indah. Menjaga ikhlas adalah menafsir banyak makna yang harus kau telusuri dengan
cinta.