Label

Rabu, 18 Januari 2017

Menjaga



Sejuta detik telah hilang, dan aku masih terdiam dalam jarum yang mematikan. Hendaklah arah ini dibawa terbang angin dengan penuh kehampaan. Entah sampai mana. Entah sampai kapan. Entah akan bagaimana. Sudah cukup sampai dalam ujaran yang tak berkesinambungan, hingga aku pamit undur diri dengan rasa bersalah yang berlumuran memenuhi diri. Aku ingin menjadi pohon yang sempurna, namun aku kehilangan pijakan untuk tumbuh.
Jika esok kau akan memelihara pohon, maka janganlah sesekali kau membiarkannya tumbuh menjulang tinggi namun rapuh. Akar yang terlihat kuat hanya simbol yang menjadi keangkuhan, daun yang rindang hanya menjadi pelindung untuk menutupi kelemahan, batang yang terlihat kokoh yang perlahan digerogoti rayap karena kelalaian dan keegoisan, dan buah yang ada hanya menjadi simalakama yang tak dapat dinikmati banyak orang. Jangan. Tumbuhlah untuk menumbuhkan, bukan melumpuhkan.
Menata ulang yang telah lampau. Meski yang telah rapuh belum tentu akan sembuh, hanya menjadi penawar sejenak untuk ia yang tengah terluka  parah. Namun aku diingatkan dengan satu lingkar yang menerka kata, bahwa seterluka apapun, sesempoyongan apapun, sampai kau terjatuh, kau terlelah, kau terluka parah, bahkan sampai terkoyak koyak dalam setiap jalan juang maka itu adalah tabunganmu untuk akhir indah. Menjaga ikhlas adalah menafsir  banyak makna yang harus kau telusuri dengan cinta.