Label

Rabu, 30 Agustus 2017

Dalam Pinta, Bukan Puisi

Tanpa engkau sadari
Kau tengah ajariku sesuatu
Tentang penantian yang tak kunjung bertemu
Maka kini tengah tumbuh banyak benih
Antara kecewa dan bahagia
Lika-liku ini akan mengantarkan pada dua rasa
Kusemogakan kau tak temui kecewa atas sebuah jawab

Ada pintaku yang mesti kau indahkan
Berhentilah kau sematkan namaku dalam setiap baris puisimu
Semakin kau sering menuliskannya
Maka semakin banyak alasanku untuk berlari pergi
Sematkanlah dalam setiap pertemuanmu denganNya
Agar riak-riak itu tak membanjiri prasangka
Agar pinta-pinta itu tak berujung nestapa

Dalam juang ini
Kita berburu untuk tidak saling khianati
Jangan lagi wahai
Jangan biarkan ada sesuatu mengotori pinta ini
Biarkan ingin ini berteriak pada yang berhak
Takkan ada yang salah dengan jalan
Jika kita setia pada janji

Selamat berjuang
Selamat menanti
Selamat menata sabar dan menjaga hati
Tuhan tidak tidur atas segala ikhtiar

Rabu, 16 Agustus 2017

Belajar

Aku ingin berkabar padamu, tentang sesuatu yang membuatku seperti menjadi debu
Tentang banyak hal dalam proses kehidupan ini
Masa 2 dekade menjadi masa yang menghantui banyak hati
Termasuk aku kah didalamnya? Maaf, aku tidak bisa menjawabnya.
Tentang rasa, masih saja mantul.


Aku tak mengerti bagaimana cara diri memaknai kehadiran yang lain, sebab aku sudah terbiasa seperti ini. Diri tak mudah membuka hati, untuk sesiapapun. Sebab pikiran yang tak mumpuni sudah terkelabui oleh hembusan abu yang mengotori.


Dear, kau harus tau. Ditengah perjalanan proses ini rasa takut itu bukan malah hilang namun semakin menebal, kusemogakan tidak menjadi peluang syetan. Kau pun sudah tau jika kini catatan harianku yang bernama skripsweet, menu makanannya adalah feminisme, analisis gender, transformasi sosial, budaya patriarki, dkk. Dalam pikiranku pun terlintas, jika aku bukan muslimah dan menikah bukanlah salah satu bentuk abdiku pada Tuhanku, maka aku akan sangat bahagia tidak harus melalui hal tersebut.
Tak ada suatu apapun yang terlewatkan tanpa kuhadirkan dalam pengaduanku padaNya, namun jawaban yang Dia berikan semakin membuatku ciut. Akan tetapi konsekuensi dari mencintai adalah taat, maka aku takkan mengingkari jawaban yang telah kuminta padaNya. Selain itu, sebelum menjumpai ridhomu maka kini aku pada ridho lelaki pertamaku. Aku percayakan padanya, karena esok kelak kaulah yang akan menggantikannya atas tanggung jawab yang ia miliki.


Dear, tolong jangan terlalu cepat menemuiku. aku takut.
Jangankan untuk mencintaimu, untuk mengagumi seseorangpun aku sangat sulit dan butuh energi banyak untuk sabar. Namun jangan khawatir, aku sedang belajar. Dimulai dari belajar menghargai (terutama pada laki-laki), sebab lelaki pertamaku selalu mengajari itu. Jadi kumohonkan kepadamu kesabaran yang dalam, jika aku membutuhkan waktu lama untuk mencintaimu. ^_^

Ini tentang abdi yang  panjang, maka untuk melaluinya butuh nafas yang panjang pula.
Aku sedang belajar mencintai, doakan.
Aku sedang belajar mengagumi.
sekalipun bukan kau, aku patuh.