Diana, aku memberi nama baru
untuk diriku. Doa dari kedua orang tuaku takkan hilang, sebab Diana hanya
rangkaian potongan namaku, aku nerangkai ulang. Seperti kisahku.
Hari ini sepertinya aku akan
memulai kisah baru, tanpamu.
Aku akan menciptakan dongeng baru
tanpa merusuhimu lagi, kali ini aku sedang merapikan kenangan. Aku akan
membungkusnya, menyimpannya di museum terbaik agar sesekali aku bisa
menengoknya jika aku membutuhkan. Bukan hanya membutuhkan kisah kenang kita,
pun saat membutuhkanmu mungkin.
Sampai saat ini aku belum bisa
memprediksi aku akan diutus ke belahan bumi bagian mana, hanya saja aku masih
selalu saling berbisik dengan Tuhan. Meminta ini itu tanpa tahu diri,
setidaknya aku sedang mendekati takdir terbaik yang akan dibisikanNya. Hari ini
mungkin belum tepat untukNya mengabarkan padaku, maka aku harus terus berlarian
sambil tak terhenti berbisik padaNya.
“Diana, kenapa kau berubah?” itu pertanyaanmu
di malam pekat itu.
Aku jelas sangat rentan untuk
lupa akan semua kata-kata yang pernah kau sampaikan padaku. Namun siang ini aku
sampaikan padamu tentang sesuatu hal yang penting bagiku, entah bagaimana menurutmu.
Hidup ini adalah rangkaian
kejutan, tugas kita adalah beradaptasi dengan setiap kejutan yang diberikanNya
bukan? Entah hal itu sangat kita inginkan atau bahkan tidak pernah kita
bayangkan. Pun dengan sebuah perubahan, itu adalah sebuah keniscayaan. Aku berharap
kau takkan pernah menanyakan hal tersebut kepada sesiapapun lagi setelah aku,
sebab bisa jadi yang kau tanya pun takkan mengerti apa maksud yang kau tanyakan.
Setiap fase membutuhkan peran
yang berbeda, artinya aku harus memerankan peran baru di dongengku kali ini. Dan
kau harus ingat, bahwa dongengku kali ini adalah tanpamu maka kau tak berhak
menghakimi setiap rangkaian cerita yang tengah kulalui, apapun itu. Kau juga
sangat boleh menegurku jika aku mulai mengusik kisah yang tengah kau bangun
dengan megah, sebab aku juga tak terlibat dalam rangkaian dongengmu.
Percayalah, masing-masingnya kita
bukan karena pilihan melainkan ada kisah sempurna yang sedang Ia siapkan untuk
kita. Aku belum memastikan kapan aku harus pergi, hanya saja aku memintamu
untukku mempersiapkan menjemputnya. Jika Ia ridho, kita akan menghitung mundur.
46 dari sekarang, aku sedang menata kenang untuk mempersiapkannya.
Kisah barumu sangat menarik, aku
sudah mulai menyaksikannya dengan bangga. Doakan aku pun akan mampu membangun
dongeng yang sangat megah, dimanapun dan dengan siapapun nantinya.
Kita harus siap menutup kenang,
untuk segala pengharapan.
Yogyakarta, 28 Maret 2018