Label

Rabu, 27 Januari 2016

Entah, aku mungkin.



Banyak cerita yang tak pernah kusampaikan padamu, padahal aku paham bahwa kau sangat ingin mendengar kabarku. Namun aku terperangkap dalam dunia yang rumit seperti ini, yang memisahkanku dari tinta pun menjauhkanku dari cerita. Bukan salah dunia yang memintaku, tapi karen aku yang tak mampu mengelola dunia yang kini hadir kepadaku. Kadang aku pun tersipu malu dengan semua yang terjadi atas diri saat ini, tak jarang rasa jenuh itu selalu menggodaku untuk pindah ke dunia lain namun inilah jalanku yang tak bisa dinegosiasi lagi. saatnya aku yang mesti bernegosiasi dengan diriku sendiri.
Aku ingin sekali mengambil cinta dari berbagai arah, namun inilah tempat pertama dimana aku menemukannya. Maka aku harus mencoba bertahan dengan luka separah apapun yang menusuk diri ini.
Malam ini kembali ku diingatkan tentang hakikat sabar dan syukur, selalu saja kedua hal tersebut menjadi bagian dari sekian banyak alasan yang menjaga keberadaanku disini.
Kadang kita harus banyak melihat alam sekitar kita agar kita paham bahwa kita adalah orang yang sangat beruntung atas apa yang kita dapatkan.
Dan kadang kita pun harus banyak mendengar, agar kita mengerti betapa Allah sangat menyayangi kita dengan segala potensi yang dapat kita manfaatkan untuk kebaikan yang dapat kita salurkan.
Ahh, semuanya melebar kemana-mana. Yang awalnya aku hanya ingin menyampaikan atas kebahagiaanku atas segala macam rasa yang ada didalamnya.
Jogja salah satu kota impianku sejak dulu, yang kadang aku melupakan bahwa kini aku tengah bersamanya. Maka tiada sesuatu alasan apapun untukku tidak menikmatinya.
Hal yang membuat hidup ini semerawut salah satunya adalah saat apa-apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan,
Allah, terima kasih atas satu hari ini.
Aku belajar banyak tentang mencintai, dan merefleksikan diri atas apa-apa yang aku mau dan telah Kau beri namun aku masih belum bisa untuk menikmati.
Allah, mohon ampunkan segala kemunafikanku atas diri ini..
Tiada hari tanpa sebuah pelajaran.. ^_^

Kamis, 21 Januari 2016

Nasihat Teteh



011115
INILAH DIRI KINI. . . [01 November 2013]
    Usia itu seperti titik-titik yang saling berhubungan. Maka, menjadi kewajiban kita untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan yang kita lalui selama ini. Dari titik ke titik, bagaikan menghubungkan dari satu angka ke angka yang lain. Maka perhatikanlah bagaimana dunia menipu kita atas nama sukses? Sukses yang mana kita maksud? Apakah sukses yang dikelilingi dunia? Dikelilingi fitnah? Duh, dunia.
Ataukah sukses abadi yang mampu menjanjikan kenikmatan kekal yang tak ada duanya? Itulah akhirat.
Jiwa manusia menyimpan beragam rasa dan suasana yang dibentuk oleh kehidupan yang dihadapi. Ada senang ada sesdih, ada bahagia ada derita, ada karunia ada musibah. Rasa dan suasana itu terkadang membuat kita harus bicara dan cerita, juga terkadang butuh mengadu. Ya, karena rasa dan suasana itu seringkali menuntut kita untuk lepaskannya lewat cara itu.
Sungguh Allah memahami betul keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan rahmat-Nya, maka kita tak perlu heran, jika Allah melaknat orang yang enggan berdoa kepadaNya, orang yang tak mau mengadu kepadaNya, Allah menyebutnya sebagai hamba yang sombong. Dia mengancamnya dengan siksa neraka.
Mengadu selalu ada di stiap zaman dan dibenarkan, karena memang selalu ada masalah yang seringkali datang mewarnai hidup kita.
Kita tau bahwa Allah tempat kita mengadu yang paling tepat, tempat kita melepaskan yang paling benar, tapi kita juga harus tau, bahwa Allah menjawab persoalan kita berbeda-beda. Kadang disegerakan, kadang ditunda, kdang diganti dengan yang lebih baik dari apa yang kita minta.
Jadi bersabar dan bersyukurlah. . .
Dan kini izinkan diri ini bercerita banyak hal, dan bertanya tentang diri lewat tarian-tarian jari yang berlomba mengumpulkan huruf hingga menjadi makna yang mampu menyampaikan rasa dan mewakili apa yang sedang dihadapi, semoga dijauhkan dari  berkeluh-kesah.
Hari ini Allah kembali memberi sapaNya lewat pergantian usia yang kian matang, usia yang tidak lagi terbilang anak muda yang seringkali manja dan banyak mengeluh serta menikmati perjuangan sebatas daya yang dimiliki.
Usia yang kian bertambah ini meski pada hakikatnya berkurang, kembali membuat diri merenung banyak hal, usia 22 tahun tak ada lagi tawar-menawar, sudah saatnya matang dan siap mengabdi, serta bersiaga berikan karya terbaik.
Selalu teringat beberapa tahun kebelakang, ketika pergantian usia ini menyapa rasanya tak ingin ada yang tau, tak ingin ada yang mengingatkan, bahkan terkadang enggan ketika orang-orang ramai mendoakan. Sungguh bukan tak ingin untuk didoakan, tapi rasa malu terhadap diri lah yang tak bisa dibendung, yang mampu menenggelamkan diri pada aktifitas sendiri, merenung sendiri, hingga pada akhirnya kuat dan mampu untuk bangkit dgn sendirinya. Karena terkadang butuh masa-masa seperti itu.
Tapi kini mencoba lebih bijak, menjalani dengan mengalir, bagai air yang mengalir sesuai dengan alurnya, tak lagi memikirkan apa kata orang untuk kita, tapi saatnya mematangkan bagaimana diri ini bisa betul-betul manpa’at untuk banyak orang, bagaimana agar diri ini mulai menata diri mematangkan langkah untuk masa depan yang kian nyata, bagaimana agar diri ini makin dekat dengan Sang Penciptanya.
Dan semua itu harus mulai dari sekarang, dengan berbekal azzam yang membaja, ikhtiar maksimal pantang mengeluh, perkuat doa dengan cinta tertinggi padaNya.
Yaa Rabb mudahkanlah. . banyak mimpi terbentang luaaas di usia ke-22 ini.
Engkau yang akan menjadi saksi atas perjuanganku, dan Engkau sebaik-baiknya tempat ku berlabuh.
Teruntuk dirimu,Dik. .
Tengah malam sebelum ku terlelap, dengan sadar deretan pesanmu kubaca dengan jelas, tapi entah kenapa jari-jari ini enggan untuk hanya sekedar memijit tombol2 Hp yang sudah sekian lama bersahabat, hanya air mata yang membanjiri meski tak diharapkan saat itu. Mungkin karena mata ini tahu diri kalau sudah mau 22tahun mata ini menempel dalam jasad dan memerankan fungsinya untuk melihat, bisa jadi karena terlalu banyak melihat hal yang seharusnya tidak dilihat. Belum lagi dengan anggota2 jasad lainnya yang mengadu pada akal akan khilap dan salahnya, sehingga semua tertumpu pada mata yang harus mengeluarkan rasa sesalnya lewat titisan air mata.
Ya sudahlah. . ini adalah bagian anugrah yang harus juga disyukuri, karena Allah masih mempercayai dan memberikan kesempatan untuk menjemput perbaikan-perbaikan kedepan, dan menata ulang akan sebuah masa yang menentukan, hendak kemana kaki ini melangkah??
Dik. .biarlah aku menjadi diriku,dengan mimpi dan harapan besar yang terbentang luas di depan. Bukan untuk berkhayal, karena ku tak mau terbelenggu dalam dunia khayal meski berbaik. Tapi tapak2 itu pasti kan kulalui dengan susah payah, dengan keyakinan tak kan ada hasil terbaik melainkan disertai dengan ikhtiar terbaik pula, sedang kita sama2 tau untuk menempuh ikhtiar baik itu tidak akan mudah, akan ada banyak hal yang harus siap dikorbankan, dan siap dengan berbagai konsekwensi pilihan.
Dik. . Begitupun dengan mu, berkaryalah dengan kesungguhan. . temuilah garda kesuksesanmu di depan sana. . Tebarkanlah cinta terbaik untuk orang-orang disekelilingmu, jadilah orang besar yang mampu membesarkan Dien-mu dik. .
Jangan sampai ada rasa sesal yang membelenggumu, karena jalananmu masih panjang, dan peluang yang kau hadapi masih sangat besar.
Mulailah dari sekarang. . !!!
Karena ternyata ada orang2 yang jauh lebih hebat yang telah membuat kita hebat, yang kini sedang menanti dan menyaksikan perjuangan kita untuk sampai pada tujuan akhir  yang dinanti, apa yang akan kita berikan di penghujung nanti???
Tak cukup hanya dengan sebuah kesadaran, akhlaqul karimah udah menjadi barang tentu yang harus kita tanamkan, gelar sarjana?? Tak sudi rasanya bertahun2 hanya untuk memperoleh titel saja.
Jadi apa kelak yang bisa kita banggakan dan persembahkan untuk orang2 tercinta kita??
Mari tegaskan diri dari sekarang, persiapkan karya terbaik. .
Dik. . ingat pula, dua mujahidah kita akan menjadi tanggungan kita kedepan, mereka akan menjadi generasi terbaik yang akan berlomba mengumpulkan bekal keabadian, karena Cita kita untuk kembali berkumpul di Jannah’NYA tak hanya sekedar kata, tapi mari kumpulkan bekal itu dari sekarang.
Jadilah kita saudara yang membanggakan untuk keduanya, teladan yang baik untuk keduanya, dan penyokong serta penguat dalam melewati perjalanan panjang kedepan. .
agar kelak mereka jauh lebih baik dari kita, karena mereka akan banyak belajar dari kita, kesalahan dan kekurangan yang pernah kita lakukan jangan sampai terulang oleh mujahidah2 kita.
Entahlah hendak kemana arah pembicaraan ini, yang jelas sekarang mari bergegas, mari bersiap-siap, kencangkan ikat pinggang, cek seluruh perlengkapan, karena kita akan berperang melawan berbagai hambatan yang akan melintang dalam mengayun langkah menjemput kesuksesan.
Jangan lupa. . kokohkan simpul2 tali antar kita, Perkuat doa dalam setiap sujud kita, perbanyak interaksi dengan’NYA~> Sang Khaliq tempat kita kembali.
Salam penuh Cinta dariku. .
Salam Perjuangan menjemput keridhoan hakiki. .
Salam Kerinduaan yang melahirkan kuatnya Doa. .
Salam keselamatan dan ketentraman hati. .

Untukmu adiku
Ikatan kita tak sekedar tali keluarga
Tapi tali Allah atas keluarga kita lebih kuat dari apapun. 
[Bidadari pertama dari 4 bidadari Syurga]

Selasa, 19 Januari 2016

Hancur


Waktu menyulut, menyalakan api
Padahal aku disini masih terbebani
Mereka tak sejenak pun membaca
Bahwa kini akan banyak yang berlari
Entah itu pergi ataupun kembali
Aku pun tak ingin berbagi
Agar maksud harapkan jawaban
Lama ku menanti
Akhirnya aku sendiri yang harus mengakhiri
Tanya semakin menganga
Meneriakan jutaan riuh yang tak terjawab
Lantas aku harus berada dijalan yang mana
Saat api menyala dimana mana
Sejenak aku membaca
Namun gagal dalam seketika
Sejenak aku memakna
Namun hanya palsu saja yang kudapat disana
Sejenak aku bertanya
Namun tetap saja tak ada jawab
Aku ingin pergi
Berlari membakar seluruh isi bumi yang rumit ini
Aku akan hancur
Hanguuusss
Menjadi abu dalam ribuan rumah
Siapa yang akan menanggung kerusakan ini
Sedang aku sudah hilang terbakar lebih dulu
Biarkan semua menjadi abu sahaja
Sebelum banjir datang untuk meratakan
Karena api itu tak selsai menghanguskan
Akankah aku menjadi bangkai yang hanyut
Atau aku hanya menjadi abu yang tak tersentuh air
Keluarkan aku dari belukar ini
Sebelum mereka menghabisiku
Diamlah sejenak
Maka aku akan pergi dan mati
Menyatu dengan tanah bumi
Sedangkan kau
Akan meratapi bumi yang menjadi lautan tak bertepi

Jika sudi



Sudikah engkau hadir disini
Menepis semua rindu yang memuncak
Agar aku kembali seperti aku sedia kala
Aku ingin selalu menjadi aku
Namun semua semu semata
Karena aku seakan sudah terampas
Segala yang kumiliki kini tiada
Entah kemana
Hanya saja aku paham bahwa aku hilang
Hanya saja tak mengerti bagaimana mengembalikan aku
Biarlah jalanan membayar semua cerita
Dan aku akan kembali pada aku
Maka biarlah ruh-ruh itu terbang menjemputku