Label

Selasa, 11 Februari 2014

Semut Merah




Gelap..
Ku tak dapat melihat jalan
Seakan tanpa arah dan semboyan
Gulita tanpa kebenaran
Sunyi..
Tak ada cahaya kebahagiaan
Aku buta akan kehidupan
Kehilangan sejuta impian
Sepi...
Tak ada cinta yang berkeliaran
Hidup tanpa kawan dan lawan
Berjalan tanpa arahan
Melangkah dalam kegundahan
Itu dulu, sebelum ku berjumpa denganmu
Hadirmu memberi penerangan dalam gelapku
Kau ajari aku merangkak, berjalan, bahkan berlari
Hanya untuk mengenalNya
Hidupku semakin hidup saat  kau slalu ingatkanku
Rasa mulai mengelabui seluruh asa untuk tak lagi kaku akan dunia
Tersadar, ku terjerat dalam cinta yang nyata
Kutemukan cahaya diatas awan
Dalam lingkaran cinta yang menawan
Disanalah kumulai mengenal arti tentang keindahan
Melihat dunia untuk bersama di Keabadian yang tlah Dia janjikan
Tertata rapi dalam barisan seakan tak ada lelah
Berangkulan tanpa resah bak sekumpulan  semut merah
Memberiku sejuta arah tuk kutuliskan dalam sejarah
Mengajarkanku tentang hakikat juang tanpa lelah
Tak ada kata resah karena cinta tak membuat lemah
Berjalan beriringan menikmati pahitnya sebuah kata juang
Menyelami dunia yang kadang tanpa ruang
Meski waktu tak lagi izinkanku bersamamu
Namun biarkan aku tuk setia mencintaimu dalam rinduku
Karna kau tlah ajarkan cinta dalam hidupku
Tentang cinta kepada Sang Pemilik cinta tuk arungi dunia dengan nyata
Memang tak mudah namun semua kan berakhir indah
Bersama semut merah ku temukan arah tuk tentukan arah panah

Sabtu, 08 Februari 2014

Cinta atau Rindu


Saat air tak lagi mengalir
Semua terpaku ambigu tiada berarah
Aku ingin tetap jadi aku meski lelah
Tak ingin siapapun tahu bahwa aku adalah aku
Karena aku tiada berarti tanpa Kasihku..
Namun cinta membawaku jauh berlari
Hingga tiba saatnya nanti..
Saat angin tak lagi menyejukkan
Semua kaku tanpa bayangan
Tak ada yang ragu atau gugur
Namun semua singsingkan lengan untuk bertempur
Cinta berikan pesona indahnya untukku berlari
Berlari mengarungi samudra luas ini
Namun aku tetaplah aku dalam gelap sunyi ku
Saat pelangi tak lagi berwarna
Cahaya bergelombang tanpa terang
Aku terpatri dalam kegelapan tanpa keramaian
Terseka diantara para bintang
Aku terbuai dengan irama cinta dan sayang
Terbunuh dengan gelap yang berkepanjangan
Gulita menjadikanku seorang pecundang bintang
Air diam itu membuatku kaku
Angin panas itu buatku berlari
Pelangi kelabu itu buatku tahu warna indah dalam hidupku
Saat semua hilang seakan kelam
Rindu menjadi bakal cinta yang sempat hilang
Bukan karna ku malu pada gelapnya malam
Atau karnaku tak menyaksikan sang surya di alam siang
Namun karena rindu merasuki diri dalam kelam
Meminta hati untuk setia dalam diam

Sepotong Episode Hidup yang Hilang




Saat senja menyapa, duka nestapa seakan menyayat rasa dan asa. Langit menangis deras tanpa henti, angin menyapa dengan marahnya, ombak berkejaran tanpa ingin ada yang kalah. Aku terhempas dalam kecewa, aku kaku dan aku merasa ambigu, seakan dunia ku gelap tanpa cahaya. Semua emosi membuncah tak tertahankan, rasa bingung pun menyelimuti semua kegelapan hati ini. Tak terasa ternyata sampai saat ini suasana tak ubah membaik, aku selalu meminta kepadaNya untuk membukakan segalanya namun Dia belum berkenan. 5 tahun ini kehidupan dirumah ini sudah tak hidup lagi, ya semenjak kejadian itu semua menjadi kaku dan rumah hijau ini pun seakan kelabu, dulu rumah hijau ini selalu ramai banyak orang bergantian masuk dengan segala urusan dari mulai rekan kerja ayah, teman nangkring ka Karang, kelompok belajarku, bahkan sampai teman bermain Rio yang selalu menjadikan ruang tamu nampak seperti kapal pecah.
                “Intan makanan nya sudah siap? Dipercepat nak, Rio sudah menunggu sejak tadi.” Suara bunda membuyarkan lamunanku.
“Iya bun, ini aku baru selsai” jawabku sambil berlari menuju kamar Rio. Kembali kulihat wajah bunda yang tampak sangat lelah, ia tak pernah ingin memperlihatkan kelelahan dan kepahitan yang tengah ia rasakan meskipun ku tahu ia menangis perih hingga saat ini, bagaimana tidak selama 5 tahun ini ia harus menjadi ibu sekaligus bapak bagi ke empat anaknya dengan segala kejadian aneh yang terjadi.
Ia wanita kuat, setia merawat Rio semenjak kejadian itu, berusaha keras memberikan pengobatan kepada Mawar yang terganggu jiwanya sejak saat itu juga, serta sabar menghadapi kak Karang yang sampai saat ini masih menjadi preman jalanan yang hobinya mabuk setiap malam, aku selalu berusaha ingin membantu bunda tapi ia selalu tak ingin memberikan beban kepada orang yang ia sayang, ia selalu memberikan kebahagiaan bagi semua orang yang ada disampingnya.
“Intan sayang, sekarang bunda harus ke RSJ untuk menjenguk adikmu, Mawar. Jangan lupa nanti siapkan makan untuk Rio, bunda pulang agak malam nak.” Ujar bunda yang tengah bersiap pergi.
“Tapi bun, kalo bunda pulang malam  kan bunda sendiri, gimana kalau aku menemani bunda pergi?” aku memaksa bunda untuk tak pergi sendiri, tapi sebelum dijawab pun aku sudah tau jawabannya, bunda pasti menolak ku.
“Tidak usah nak, kasian adikmu Rio sendiri. Oh ya jangan lupa juga siapkan air hangat untuk kakakmu nanti, dia pasti pulang malam ini.” Jawab bunda sambil beranjak pergi. Selalu saja begitu, saat aku mengkhawatirkannya ia justru lebih mengkhawatirkan orang yang tak memikirkannya sedikitpun.
                “Sejauh ini Mawar belum mengalami peningkatan yang signifikan bu, ia masih depresi berat dan saya pun sudah bingung harus bagaimana menghadapinya.” Penjelasan doktor akan kondisi Mawar. Bunda tak dapat berkata apa-apa, ia hanya mampu menghela nafas panjang mendengar kondisi anaknya bungsunya. Lantas bunda mencoba menyapa Mawar yang tengah asyik bermain ditaman.
 “Alloh, berikan hati yang tenang kepadanya. Ia tak salah apa-apa, anakku harus melanjutkan masa depannya, sembuhkan luka dalam jiwanya ya robb karna ia masih harus menjemput kesuksesannya diesok kelak sebagaimana remaja perempuan yang lainnya.” Isak tangis bunda tak tertahankan saat melihat Mawar bermain ditaman dengan sangat ceria bersama kawan yang lainnya, ia berjingkrak memainkan boneka yang ada digenggamannya sambil berkata-kata “Ayahku mau pulang, tapi nanti. Tunggu ya ayahku pasti pulang besok kok, kalo gak besok pasti lusa atau minggu depan, bulan depan atauu tunggu saja nanti sampai dia pulang”. Mendengar itu, bunda menjadi enggan mendekat.
 “Aaaarrrgggghhhttt............ Ayahku pasti pulaanng dia janji akan pulang, dia akan pulang dan kalian harus diaammm” teriakan Mawar menghentikan tangisan bunda. Mawar kembali mengamuk, semua perawat keluar untuk mengamankan Mawar agar tak menyakiti pasien lainnya, ia diberikan obat penenang sehingga ia terbujur lemah diatas ranjang. Bunda duduk disampingnya sambil mengelus lembut rambut panjangnya,
“Maaf bu, kalo boleh saya sarankan kalo bisa Mawar dipertemukan dengan ayahnya. Itu akan memberikan kemajuan untuk mawar karna setiap hari ia selalu memanggil-manggil ayahnya.” Ujar seorang perawat pada bunda, tanpa bicara apapun bunda langsung berdiri dan pergi meninggalkan Rumah Sakit itu. Perasaan bunda kembali berkecamuk perih, bagaimana tidak ia menanggung semuanya sendiri bunda pun bingug bagaimana cara mempertemukan orang yang aya dipenjara dan Rumah Sakit Jiwa.
                “Ahmad, ada yang mau menemuimu.” Dengan tegas polisi membukakan gergaji besi itu dan pak Ahmad pun keluar.
“Aku mulai bingung yah, aku tak tau apalagi yang harus aku lakukan yah..” lirih suara bunda terdengar dengan mutiara yang mengalir dari kedua mata indahnya.
“Kenapa lagi bun? Bersabarlah, ayah yakin suatu saat Alloh akan membukakan semua yang telah terjadi pada ayah bun, bunda percaya pada ayah kan? Bunda percaya kan kalo ayah tak melakukan kesalahan?” ayah mencoba menguatkan.
“Aku tahu itu yah, hanya saja aku tak tega melihat kondisi anak-anak hari ini. Karang semakin menjadi-jadi dalam pergaulan kelamnya, Rio sampai saat ini masih stagnan tidak ada perkembangan pada tubuhnya, dan Mawar pun demikian tak ada perubahan baik padanya. “bagaimana dengan intan?” ayah tiba-tiba memotong pembicaraan bunda.
“Intan sudah dewasa yah, hanya dia yang mengerti bagaimana kondisi kita saat ini dan sekarang ia mulai bekerja di pabrik besar untuk memenuhi kebutuhan hidup kita yah, ia masih mencari solusi bagaimana agar kita terutama ayah bisa keluar dari masalah ini.” Suasana hening, ayah tertunduk dan ia menggenggam erat tangan bunda.
“Yakinlah semua kan berakhir indah bun.”
Rembulan memberikan sinar terangnya dan bintang mengindahkan gemerlap malam, aku masih asyik menyuapi Rio makan. Inilah Rio yang sampai sekarang rapuh, ia sangat lahap makan tanpa mengeluhkan sesuatu apapun tentunya, karna bagaimana ia akan mengeluh bergerakpun sulit apalagi biacara dan mengekspresikan apa yang ia rasakan, ia hanya mampu tersenyum dan tersenyum meski senyum pahit sekalipun.
“Bruuukkk.....” terdengar suara pintu yang dibuka seenaknya, ku tahu it pasti kak Karang yang baru pulang. “Bundaaa... mana air panas buat ku??” Ia berteriak-teriak tak karuan.
 “Bunda belum pulang, tak ada air panas untukmu malam ini, kalau mau masak aja sendiri sana. Jangan terlalu bergantung pada orang lain, segeralah sadar kak kau ini semakin tua.” Aku menggerutu kesal atas perbuatannya,
“Sekarang sudah saatnya kita merubah hidup kita kak, bunda sudah sangat lelah dengan semua beban yang ia hadapi saat ini, hentikan ulah gilamu! Tak ada lagi minuman keras hari ini, tak ada lagi judi, tak ada lagi hal buruk yang kau perbuat kak, kita harus membantu ayah untuk bebas.” Lanjutku. lantas ia berdiri memegang guci kecil disebelahnya dan melempar dengan kerasnya memecahkan barang-barang disekitarnya,
“Cukuuuupppp.... Hentikan Ocehanmu.!! Apa hakmu mengatur hidupku? Sampai saat ini tak pernah ada yang mempedulikan aku, ayahku mati 5 tahun yang lalu. Aku sudah tak punya lagi hidup didunia ini.” Ia memang keras kepala, tak pernah mau mengalah dalam segala hal tapi aku yakin hatinya masih mengharapkan kebahagiaan.
 “Jika kau tak punya hidup, maka inilah saat yang tepat untuk kau membangunnya. Sebelum kau seperti sekarang ini kau harus ingat bahwa keringat dari kerja keras ayah lah yang mampu menjadikan kau mendapatkan segalanya, dan kesabaran ibu merawatmu yang membuatmu dapat tumbuh dewasa seperti saat ini.”
Plaaakkkk... Tangan kasar nya mendarat dipipiku, lantas ia langsung pergi kekamarnya tanpa berkata suatu apapun. Aku hanya berdiri kaku dan air mata ini mengalir deras tak tertahankan, memang sangat pedih untuk menghadapi hidup hari ini. Tamparan ini bukan yang pertama bagiku karna dari semenjak kejadian itu. Ya, sejak kejadian itulah hidup ini menjadi keras, saat itu hari ulau semur iting tahun Mawar yang ke 15 tepatnya pada tanggal 1 Januari 2009. Hari itu semua sangat berbahagia, keluarga besar kami merayakan ulang tahun Mawar  ditaman depan rumah.
Ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai angin yang kencang hingga kita harus memindahkan semua peralatan pesta kedalam rumah, dan hujan tak menghentikan pesta kami. Suasana mulai ramai, satu persatu dari tamu undangan yang datang bergantian mengucapkan selamat kepada Mawar. Rona wajah Mawar sangat berseri-seri terlihat jelas kebahagiaannya dihari ini karena ternyata pest ulang tahunnya tak hanya dihadiri oleh keluarga besar kami tapi dihadiri juga oleh rekan kerja ayah, semua teman sekolah nya bahkan guru-guru di sekolahnya.
Tok... tok.. tok.. ketukan pintu itu mengalihkan perhatian para tamu undangan yang tengah ingin menyaksikan Mawar yang akan meniup lilin, dengan segera bi Inah membuka pintu.
“Benar ini rumah pak  Ahmad Fauzi?” suara tegas itu terdengar sampai ke ruang tengah tempat kami pesta.
“Iya pak, ini benar rumah pak Ahmad Fauzi. Ada yang bisa bantu? Silahkan masuk.” Jawaban bi Inah sangat terbata-bata seperti orang yang kaget, hingga kak Karang mencoba melihat ke pintu tapi langkah kak Karang terhentikan saat ia melihat tiga lelaki tegap berseragam polisi telah hadir ditengah ruang pesta. Dengan tegas polisi itu berkata
“Maaf, pak Ahmad Fauzi harap ikut kami ke kanto Polisi untuk pemeriksaan atas tuduhan pembunuhan dan penggelapan uang sebanyak 300 Miliyar dana untuk gaji karyawan di perusahaan Cendana Muda”. Semua tercengang, suasana hening itu diakhiri saat polisi mengeluarkan borgolnya untuk menahan dan membawa ayah  ke kantor polisi. Aku dapat melihat jelas wajah ayah yang kebingungan, tapi aku pun tahu ia pasti tak dapat mengungkapkan apapun saat seperti ini, wajah bunda pun sudah tak karuan menganggung malu, Mawar langsung lari ke kamar atas dengan meninggalkan kue ulang tahun yang belum ia tiup.
Polisi mulai melangkah keluar dari rumah dengan membawa ayah pergi, aku tengah melihat bunda masih berdiri tegak dengan cucuran air mata di wajah cantiknya. Ditengah hiruk pikuk tamu yang mulai bepergian secara bergantian tiba-tiba Rio berteriak
“Ayaaaahhhhh....” Kemudian ia berlari kencang berusaha mengejar ayah yang sudah masuk kedalam mobil polisi.
 “kau jangan gila, kau takkan bisa mengejar mobil itu Rio. Biarkan saja ayahmu dibawa” Kak kKarang mencoba mencegah Rio dengan menggenggam tangannya.
“Ayah tidak bersalah kak, ayah tak mungkin melakukan semua itu.” Rio melepaskan genggaman tangan Karang dan barlari cepat mengejar mobil yang sudah melaju kencang tanpa melihat apa dan siapa disekelilingnya.
“Bruuukkkkkk.... Sebuah truk menabrak Rio saat ia menyebrang di perempatan jalan, Rio terseret truk sepanjang 2 km dan pengemudi truk itu pun lari tanpa bertanggung jawab. Aku dan kak Karang segera membawanya ke Rumah Sakit terdekat, aku sudah tak dapat melihat jelas wajah Rio, semuanya hancur. Sementara bunda, ia shock berat dan pingsan saat mendengar bahwa Rio kecelakaan. Sesampainya di Rumah Sakit Rio langsung masuk ke UGD.
“Semua ini gara-gara laki bejat itu, dia berhasil menghancurkan semuanya hari ini.” Kak Karang menggerutu sendiri.
 “apa yang kau maksud? Kau menyalahkan ayah?” aku menjawab kesal.
“Ayah belum tentu bersalah, belum ada bukti dan saksi yang menyatakan ayah bersalah dan aku yakin ayah tak mungkin melakukan   semua itu” lanjutku.
“itu benar, tapi dia benar-benar mengahcurkan hari ini.” Ia berkata sambil pergi.
Aku sangat enggan menghadapi hari esok, tapi apa boleh buat sang surya sudah siap untuk memberikan sinarnya pada dunia. Rasanya akan banyak kejutan dihari ini, aku yang dari malam menemani Rio di Rumah Sakit pagi ini melihat wanita kuat itu datang dengan wajah pucatnya.
 “Bagaimana kondisi Rio, tan?” tanya bunda dengan lemasnya.
“belum ada kabar dari dokter bun, katanya hari ini baru keluar” aku mencoba menjawab menenangkan bunda. Namun air mata bunda tak terbendung lagi.
 “Bunda bingung apa yang harus bunda lakukan nak, Karang sudah tak bisa bunda andalkan dia benar-benar kecewa pada ayah, bunda bingung harus minta bantuan siapa? Semua rekan kerja ayah pun sudah tak ada yang percaya, begitu pun keluarga besar kita.” Rasanya aku tak sanggup melihat wajah lembutnya terlihat kusam.
“disini ada Intan bu, tenang saja. Jikalau pun ini salah, Alloh akan membukakan segalanya dan jikalau pun ini benar maka Alloh tengah menguji kita sebagai hambaNya. Sekarang bunda coba temui ayah, ayah pasti menanti kehadiran bunda.”ujarku padanya.
Kondisi hari ini sangat panas, hampir semua media mengabarkan tentang berita ayah. Tak sedikit berita yang dibumbui dengan hal-hal yang tak semestinya diungkap.
“Aku tidak membunuh karyawan itu dan aku pun tidak pernah melakukan penggelapan uang itu. Bunda percaya kan? Bun, beri tahu anak-anak bahwa ayah tak melakukan semua itu.” Bunda tak mampu bicara, ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya lantas menangis sejadi-jadinya dipelukan ayah.
“Kepercayaanmu kan menjadi kekuatanku saat ini bun” ayah melepaskan pelukannya dan menghapus air mata bunda.
“aku tak tahu apakah ini rahmat atau musibah, aku hanya ingin berbaik sangka kepada Alloh. Tapi setauku karyawan yang mati itu karena kecelakaan tunggal bukan karna dibunuh dan uang untuk gaji karyawan sudah sepenuhnya aku serahkan kepada pak Muhammad Ali dari bulan Desember lalu bun”.
Bunda hanya tersenyum dan berkata “Bunda percaya, doakan saja bunda semoga kuat menghadapi semua ini. Semalam Rio mencoba mengejarmu yah, dan saat ini ia masih terbaring di Rumah Sakit karna tertabrak truk.” Ayah menghela nafas panjang, “ayah bingung harus bagaimana bun, ayah sudah dapat memikirkan bagaimana kondisi anak-anak terutama Mawar, dia pasti sangat terpukul dengan kejadian tadi malam.”
“Bagaimana kondisi Rio dok?” aku dengan spontan brtanya pada dokter saat keluar dari ruang operasi itu.
“Maaf bu, kami tak bisa membantu banyak. Rio kehilangan kedua tangan dan kakinya, kami tak bisa melakukan apa-apa.” Aku seakan melayang terbang, adikku harus kehilangan masa depan, kaki dan tangan nya sudah hilang, aku tak tahu bagaimana bunda saat mendengar ini, ini kejutan yang luar biasa tapi lagi dan lagi bunda hanya tersenyum dan berkata “Bunda tak tahu apakah ini rahmat atau musibah, bunda hanya ingin berbaik sangka kepada Alloh nak.” Hari berganti pun dengan bulan, dan Mawar masih belum mau keluar dari kamar serta belum ada saksi dan bukti yang menyatakan ayah bersalah atau tidak. Dan saat kami mencoba mendobrak pintu kamar ia sudah terkapar lemah diatas ranjang, saat dokter memeriksa Mawar ia mengatakan “bahwa kondisi Mawar sangat mengkhawatirkan, ia depresi berat.” Ini kejutan berikutnya yang Alloh berikan untuk kami. Tiba-tiba ia terbangun dan mengatakan “Ayah pasti kan pulang, ayah kan pulangkan bun?”  bunda tersenyum sambil mengelus rambut panjangnya.
Setelah setahun sejak kejadian itu kondisi Mawar makin memburuk hingga dokter menyarankan agar ia bibawa ke Rumah Sakit Jiwa, bunda tidak bisa menolak. Hari itu juga aku dan bunda mengantarkannya ke Rumah Sakit. “Tidaaaakkkk... ayah akan pulang bun. Aku mau nunggu ayah dirumah, gak mau disini” teriakan Mawar membuat hatiku bergetar, malang nian nasib adikku ini, kejadian malam itu menjadi pukulan yang berat baginya. “Sabar ya nak, bunda janji suatu hari nanti bunda akan membawa ayah pulang” Air mata bunda kembali mengalir deras. Sampai saat ini tak ada perkembangan terkait kasus yang dihadapi ayah, sampai saat ini status nya hanya sebagai tersangka tanpa ada proses yang jelas. Kak Karang sudah menjadi preman jalanan yang seakan tak punya lagi kehidupan, kepercayaannya pada ayah benar-benar sudah hilang bahkan perkataan bunda pun tak lagi ia hiraukan dan aku harus bekerja keras untuk membantu bunda menghidupi keluarga ini.
“Assalamu’alaikum..” Salam bunda membangunkan lamunanku.
“Wa’alaikumussalaam.” Aku berlari membukakan pintu untuk bunda.
“Kenapa ini nak? Kenapa semua berantakan seperti ini, Karang sudah pulang?” bunda terheran-heran melihat pecahan-peecahan guci berserakan.
“Aku sudah pulang dan aku akan pergi.” Tiba-tiba kak Karang muncul dan berlari keluar dari rumah.
“Begitulah kelakuan anak sulung bunda, datang merusak semuanya dan pergi tanpa tahu malu,” omelku pada bunda. Tapi lagi dan lagi bunda selalu membelanya.
 “Sudahlah nak, kakakmu mungkin sedang khilaf. Oh iya, bunda tadi sempat berkunjung ke penjara dan sampai saat ini belum ada perkembangan.” Keluh bunda padaku.
“Ya sudah bun, sekarang bunda bersih-bersih dulu kemudian langsung istirahat takutnya bunda malah kecapean.” Ujarku sambil membereskan pecahan yang berserakan.
Pagi yang cerah, seperti biasa aku menyalakan TV agar Rio dapat melihat info-info terbaru didunia luar. Tiba-tiba diberitakan bahwa tadi malam telah terjadi tawuran di gang rambutan yang menewaskan 3 orang laki-laki dan 1 perempuan dan ternyata salah satu korban yang tewas adalah Karang Ahmad Khalid. Aku tertatih tak percaya, kakakku pergi secepat itu.
“Bundaaaa..” aku berteriak tak percaya ternyata kakakku pergi dalam kondisi seperti ini.
“Kenapa nak?” bunda bingung melihatku dan Rio menangis bersamaan.
“Kak karang bun, Kak Karang pergi.” Aku berkata terbata.
Akhirnya bunda mencoba melihat TV, dan bunda hanya tersenyum pedih. “Alloh begitu menyayangi hambaNya yang bersabar.” Kami bersiaga pergi ke Rumah Sakit yang diberitakan tadi dan ternyata benar. Karang yang gagah perkasa kini terbujur kaku dengan ditutupi sehelai kain putih. Ia dimakamkan di makam keluarga besar kami, meskipun tak ada seorang pun yang hadir dari keluarga besar. Sepulang dari pemakaman ada hal yang mengejutkan, ayah tengah duduk diruang tamu. Aku bunda dan Rio merasa kaget dengan keberadaan ayah dirumah.
“Ayah kenapa disini?” tanya bunda. “Ayah melarikan diri? Kenapa ayah melakukan ini? Lanjutnya lagi.
Ayah tersenyum manis, “Ayah sudah bebas, ayah dinyatakan tak bersalah. Semua yang terjadi hanya manipulasi fakta untuk menjatuhkan nama Ayah dalam dunia bisnis” Ujar ayah pada kami.
Aku bingung harus berkata apa, rasa ini bercampur aduk. Marah, sedih, bahagia, kecewa, anehh. Siapa yang harus aku salahkan? Siapa yang harus aku marahi? Siapa yang harus aku benci? Dulu mereka menyeret ayah seakan yakin dengan kabar  yang mereka bawa, hingga semua media mengabarkan tentang bejatnya ayah yang kucinta dan bagaimana kehancuran keluarga kita. Sekarang ayah bebas tanpa ada klarifikasi pernyataan tak bersalah, tanpa ada media yang meliput. Selama 5 tahun aku dan keluarga ku kehilangan hidup dan merasa tersiksa, aku kehilangan kakakku, adikku kehilangan tangan dan kakinya bahkan Mawar kehilangan jiwanya, ternyata semua terjadi hanya karna kepentingan seseorang saja, birokrasi tak dapat lagi ku percaya.
Inilah indonesia saat ini, seperti dunia khayal. Semua menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepuasan mereka. Inilah negriku Indonesia, Negara yang penuh retorika tanpa fakta nyata. Semua berdiri diatas kepentingannya masing-masing. Sepotong episode hidupku hilang hanya karna mereka yang menginginkan kepuasan. Tapi tak apa aku hanya seorang pemain yang harus berperan dengan baik, karena skenario indah ada ditanganNya.