Saat senja
menyapa, duka nestapa seakan menyayat rasa dan asa. Langit menangis deras tanpa
henti, angin menyapa dengan marahnya, ombak berkejaran tanpa ingin ada yang kalah.
Aku terhempas dalam kecewa, aku kaku dan aku merasa ambigu, seakan dunia ku
gelap tanpa cahaya. Semua emosi membuncah tak tertahankan, rasa bingung pun
menyelimuti semua kegelapan hati ini. Tak terasa ternyata sampai saat ini
suasana tak ubah membaik, aku selalu meminta kepadaNya untuk membukakan segalanya
namun Dia belum berkenan. 5 tahun ini kehidupan dirumah ini sudah tak hidup
lagi, ya semenjak kejadian itu semua menjadi kaku dan rumah hijau ini pun
seakan kelabu, dulu rumah hijau ini selalu ramai banyak orang bergantian masuk
dengan segala urusan dari mulai rekan kerja ayah, teman nangkring ka Karang,
kelompok belajarku, bahkan sampai teman bermain Rio yang selalu menjadikan
ruang tamu nampak seperti kapal pecah.
“Intan
makanan nya sudah siap? Dipercepat nak, Rio sudah menunggu sejak tadi.” Suara
bunda membuyarkan lamunanku.
“Iya bun,
ini aku baru selsai” jawabku sambil berlari menuju kamar Rio. Kembali kulihat
wajah bunda yang tampak sangat lelah, ia tak pernah ingin memperlihatkan
kelelahan dan kepahitan yang tengah ia rasakan meskipun ku tahu ia menangis
perih hingga saat ini, bagaimana tidak selama 5 tahun ini ia harus menjadi ibu
sekaligus bapak bagi ke empat anaknya dengan segala kejadian aneh yang terjadi.
Ia wanita
kuat, setia merawat Rio semenjak kejadian itu, berusaha keras memberikan pengobatan
kepada Mawar yang terganggu jiwanya sejak saat itu juga, serta sabar menghadapi
kak Karang yang sampai saat ini masih menjadi preman jalanan yang hobinya mabuk
setiap malam, aku selalu berusaha ingin membantu bunda tapi ia selalu tak ingin
memberikan beban kepada orang yang ia sayang, ia selalu memberikan kebahagiaan
bagi semua orang yang ada disampingnya.
“Intan
sayang, sekarang bunda harus ke RSJ untuk menjenguk adikmu, Mawar. Jangan lupa
nanti siapkan makan untuk Rio, bunda pulang agak malam nak.” Ujar bunda yang
tengah bersiap pergi.
“Tapi bun,
kalo bunda pulang malam kan bunda
sendiri, gimana kalau aku menemani bunda pergi?” aku memaksa bunda untuk tak
pergi sendiri, tapi sebelum dijawab pun aku sudah tau jawabannya, bunda pasti
menolak ku.
“Tidak
usah nak, kasian adikmu Rio sendiri. Oh ya jangan lupa juga siapkan air hangat
untuk kakakmu nanti, dia pasti pulang malam ini.” Jawab bunda sambil beranjak
pergi. Selalu saja begitu, saat aku mengkhawatirkannya ia justru lebih
mengkhawatirkan orang yang tak memikirkannya sedikitpun.
“Sejauh
ini Mawar belum mengalami peningkatan yang signifikan bu, ia masih depresi
berat dan saya pun sudah bingung harus bagaimana menghadapinya.” Penjelasan
doktor akan kondisi Mawar. Bunda tak dapat berkata apa-apa, ia hanya mampu
menghela nafas panjang mendengar kondisi anaknya bungsunya. Lantas bunda
mencoba menyapa Mawar yang tengah asyik bermain ditaman.
“Alloh, berikan hati yang tenang kepadanya. Ia
tak salah apa-apa, anakku harus melanjutkan masa depannya, sembuhkan luka dalam
jiwanya ya robb karna ia masih harus menjemput kesuksesannya diesok kelak
sebagaimana remaja perempuan yang lainnya.” Isak tangis bunda tak tertahankan
saat melihat Mawar bermain ditaman dengan sangat ceria bersama kawan yang
lainnya, ia berjingkrak memainkan boneka yang ada digenggamannya sambil
berkata-kata “Ayahku mau pulang, tapi nanti. Tunggu ya ayahku pasti pulang
besok kok, kalo gak besok pasti lusa atau minggu depan, bulan depan atauu
tunggu saja nanti sampai dia pulang”. Mendengar itu, bunda menjadi enggan
mendekat.
“Aaaarrrgggghhhttt............ Ayahku pasti
pulaanng dia janji akan pulang, dia akan pulang dan kalian harus diaammm”
teriakan Mawar menghentikan tangisan bunda. Mawar kembali mengamuk, semua
perawat keluar untuk mengamankan Mawar agar tak menyakiti pasien lainnya, ia
diberikan obat penenang sehingga ia terbujur lemah diatas ranjang. Bunda duduk
disampingnya sambil mengelus lembut rambut panjangnya,
“Maaf bu,
kalo boleh saya sarankan kalo bisa Mawar dipertemukan dengan ayahnya. Itu akan
memberikan kemajuan untuk mawar karna setiap hari ia selalu memanggil-manggil
ayahnya.” Ujar seorang perawat pada bunda, tanpa bicara apapun bunda langsung
berdiri dan pergi meninggalkan Rumah Sakit itu. Perasaan bunda kembali
berkecamuk perih, bagaimana tidak ia menanggung semuanya sendiri bunda pun
bingug bagaimana cara mempertemukan orang yang aya dipenjara dan Rumah Sakit
Jiwa.
“Ahmad,
ada yang mau menemuimu.” Dengan tegas polisi membukakan gergaji besi itu dan
pak Ahmad pun keluar.
“Aku mulai
bingung yah, aku tak tau apalagi yang harus aku lakukan yah..” lirih suara
bunda terdengar dengan mutiara yang mengalir dari kedua mata indahnya.
“Kenapa
lagi bun? Bersabarlah, ayah yakin suatu saat Alloh akan membukakan semua yang
telah terjadi pada ayah bun, bunda percaya pada ayah kan? Bunda percaya kan
kalo ayah tak melakukan kesalahan?” ayah mencoba menguatkan.
“Aku tahu
itu yah, hanya saja aku tak tega melihat kondisi anak-anak hari ini. Karang
semakin menjadi-jadi dalam pergaulan kelamnya, Rio sampai saat ini masih
stagnan tidak ada perkembangan pada tubuhnya, dan Mawar pun demikian tak ada
perubahan baik padanya. “bagaimana dengan intan?” ayah tiba-tiba memotong
pembicaraan bunda.
“Intan
sudah dewasa yah, hanya dia yang mengerti bagaimana kondisi kita saat ini dan
sekarang ia mulai bekerja di pabrik besar untuk memenuhi kebutuhan hidup kita
yah, ia masih mencari solusi bagaimana agar kita terutama ayah bisa keluar dari
masalah ini.” Suasana hening, ayah tertunduk dan ia menggenggam erat tangan
bunda.
“Yakinlah
semua kan berakhir indah bun.”
Rembulan
memberikan sinar terangnya dan bintang mengindahkan gemerlap malam, aku masih
asyik menyuapi Rio makan. Inilah Rio yang sampai sekarang rapuh, ia sangat
lahap makan tanpa mengeluhkan sesuatu apapun tentunya, karna bagaimana ia akan
mengeluh bergerakpun sulit apalagi biacara dan mengekspresikan apa yang ia
rasakan, ia hanya mampu tersenyum dan tersenyum meski senyum pahit sekalipun.
“Bruuukkk.....”
terdengar suara pintu yang dibuka seenaknya, ku tahu it pasti kak Karang yang
baru pulang. “Bundaaa... mana air panas buat ku??” Ia berteriak-teriak tak
karuan.
“Bunda belum pulang, tak ada air panas untukmu
malam ini, kalau mau masak aja sendiri sana. Jangan terlalu bergantung pada
orang lain, segeralah sadar kak kau ini semakin tua.” Aku menggerutu kesal atas
perbuatannya,
“Sekarang
sudah saatnya kita merubah hidup kita kak, bunda sudah sangat lelah dengan
semua beban yang ia hadapi saat ini, hentikan ulah gilamu! Tak ada lagi minuman
keras hari ini, tak ada lagi judi, tak ada lagi hal buruk yang kau perbuat kak,
kita harus membantu ayah untuk bebas.” Lanjutku. lantas ia berdiri memegang
guci kecil disebelahnya dan melempar dengan kerasnya memecahkan barang-barang
disekitarnya,
“Cukuuuupppp....
Hentikan Ocehanmu.!! Apa hakmu mengatur hidupku? Sampai saat ini tak pernah ada
yang mempedulikan aku, ayahku mati 5 tahun yang lalu. Aku sudah tak punya lagi
hidup didunia ini.” Ia memang keras kepala, tak pernah mau mengalah dalam
segala hal tapi aku yakin hatinya masih mengharapkan kebahagiaan.
“Jika kau tak punya hidup, maka inilah saat
yang tepat untuk kau membangunnya. Sebelum kau seperti sekarang ini kau harus
ingat bahwa keringat dari kerja keras ayah lah yang mampu menjadikan kau
mendapatkan segalanya, dan kesabaran ibu merawatmu yang membuatmu dapat tumbuh
dewasa seperti saat ini.”
Plaaakkkk...
Tangan kasar nya mendarat dipipiku, lantas ia langsung pergi kekamarnya tanpa
berkata suatu apapun. Aku hanya berdiri kaku dan air mata ini mengalir deras
tak tertahankan, memang sangat pedih untuk menghadapi hidup hari ini. Tamparan
ini bukan yang pertama bagiku karna dari semenjak kejadian itu. Ya, sejak
kejadian itulah hidup ini menjadi keras, saat itu hari ulau semur iting tahun
Mawar yang ke 15 tepatnya pada tanggal 1 Januari 2009. Hari itu semua sangat
berbahagia, keluarga besar kami merayakan ulang tahun Mawar ditaman depan rumah.
Ditengah
kebahagiaan itu tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai angin yang kencang
hingga kita harus memindahkan semua peralatan pesta kedalam rumah, dan hujan
tak menghentikan pesta kami. Suasana mulai ramai, satu persatu dari tamu
undangan yang datang bergantian mengucapkan selamat kepada Mawar. Rona wajah
Mawar sangat berseri-seri terlihat jelas kebahagiaannya dihari ini karena
ternyata pest ulang tahunnya tak hanya dihadiri oleh keluarga besar kami tapi
dihadiri juga oleh rekan kerja ayah, semua teman sekolah nya bahkan guru-guru
di sekolahnya.
Tok...
tok.. tok.. ketukan pintu itu mengalihkan perhatian para tamu undangan yang
tengah ingin menyaksikan Mawar yang akan meniup lilin, dengan segera bi Inah
membuka pintu.
“Benar ini
rumah pak Ahmad Fauzi?” suara tegas itu
terdengar sampai ke ruang tengah tempat kami pesta.
“Iya pak,
ini benar rumah pak Ahmad Fauzi. Ada yang bisa bantu? Silahkan masuk.” Jawaban
bi Inah sangat terbata-bata seperti orang yang kaget, hingga kak Karang mencoba
melihat ke pintu tapi langkah kak Karang terhentikan saat ia melihat tiga
lelaki tegap berseragam polisi telah hadir ditengah ruang pesta. Dengan tegas
polisi itu berkata
“Maaf, pak
Ahmad Fauzi harap ikut kami ke kanto Polisi untuk pemeriksaan atas tuduhan pembunuhan
dan penggelapan uang sebanyak 300 Miliyar dana untuk gaji karyawan di
perusahaan Cendana Muda”. Semua tercengang, suasana hening itu diakhiri saat
polisi mengeluarkan borgolnya untuk menahan dan membawa ayah ke kantor polisi. Aku dapat melihat jelas
wajah ayah yang kebingungan, tapi aku pun tahu ia pasti tak dapat mengungkapkan
apapun saat seperti ini, wajah bunda pun sudah tak karuan menganggung malu,
Mawar langsung lari ke kamar atas dengan meninggalkan kue ulang tahun yang
belum ia tiup.
Polisi
mulai melangkah keluar dari rumah dengan membawa ayah pergi, aku tengah melihat
bunda masih berdiri tegak dengan cucuran air mata di wajah cantiknya. Ditengah
hiruk pikuk tamu yang mulai bepergian secara bergantian tiba-tiba Rio berteriak
“Ayaaaahhhhh....”
Kemudian ia berlari kencang berusaha mengejar ayah yang sudah masuk kedalam
mobil polisi.
“kau jangan gila, kau takkan bisa mengejar
mobil itu Rio. Biarkan saja ayahmu dibawa” Kak kKarang mencoba mencegah Rio
dengan menggenggam tangannya.
“Ayah
tidak bersalah kak, ayah tak mungkin melakukan semua itu.” Rio melepaskan
genggaman tangan Karang dan barlari cepat mengejar mobil yang sudah melaju
kencang tanpa melihat apa dan siapa disekelilingnya.
“Bruuukkkkkk....
Sebuah truk menabrak Rio saat ia menyebrang di perempatan jalan, Rio terseret
truk sepanjang 2 km dan pengemudi truk itu pun lari tanpa bertanggung jawab.
Aku dan kak Karang segera membawanya ke Rumah Sakit terdekat, aku sudah tak
dapat melihat jelas wajah Rio, semuanya hancur. Sementara bunda, ia shock berat dan pingsan saat mendengar
bahwa Rio kecelakaan. Sesampainya di Rumah Sakit Rio langsung masuk ke UGD.
“Semua ini
gara-gara laki bejat itu, dia berhasil menghancurkan semuanya hari ini.” Kak
Karang menggerutu sendiri.
“apa yang kau maksud? Kau menyalahkan ayah?”
aku menjawab kesal.
“Ayah
belum tentu bersalah, belum ada bukti dan saksi yang menyatakan ayah bersalah
dan aku yakin ayah tak mungkin melakukan semua
itu” lanjutku.
“itu
benar, tapi dia benar-benar mengahcurkan hari ini.” Ia berkata sambil pergi.
Aku sangat
enggan menghadapi hari esok, tapi apa boleh buat sang surya sudah siap untuk
memberikan sinarnya pada dunia. Rasanya akan banyak kejutan dihari ini, aku
yang dari malam menemani Rio di Rumah Sakit pagi ini melihat wanita kuat itu
datang dengan wajah pucatnya.
“Bagaimana kondisi Rio, tan?” tanya bunda
dengan lemasnya.
“belum ada
kabar dari dokter bun, katanya hari ini baru keluar” aku mencoba menjawab
menenangkan bunda. Namun air mata bunda tak terbendung lagi.
“Bunda bingung apa yang harus bunda lakukan
nak, Karang sudah tak bisa bunda andalkan dia benar-benar kecewa pada ayah,
bunda bingung harus minta bantuan siapa? Semua rekan kerja ayah pun sudah tak
ada yang percaya, begitu pun keluarga besar kita.” Rasanya aku tak sanggup
melihat wajah lembutnya terlihat kusam.
“disini
ada Intan bu, tenang saja. Jikalau pun ini salah, Alloh akan membukakan
segalanya dan jikalau pun ini benar maka Alloh tengah menguji kita sebagai
hambaNya. Sekarang bunda coba temui ayah, ayah pasti menanti kehadiran
bunda.”ujarku padanya.
Kondisi
hari ini sangat panas, hampir semua media mengabarkan tentang berita ayah. Tak
sedikit berita yang dibumbui dengan hal-hal yang tak semestinya diungkap.
“Aku tidak
membunuh karyawan itu dan aku pun tidak pernah melakukan penggelapan uang itu.
Bunda percaya kan? Bun, beri tahu anak-anak bahwa ayah tak melakukan semua
itu.” Bunda tak mampu bicara, ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya
lantas menangis sejadi-jadinya dipelukan ayah.
“Kepercayaanmu
kan menjadi kekuatanku saat ini bun” ayah melepaskan pelukannya dan menghapus
air mata bunda.
“aku tak
tahu apakah ini rahmat atau musibah, aku hanya ingin berbaik sangka kepada
Alloh. Tapi setauku karyawan yang mati itu karena kecelakaan tunggal bukan
karna dibunuh dan uang untuk gaji karyawan sudah sepenuhnya aku serahkan kepada
pak Muhammad Ali dari bulan Desember lalu bun”.
Bunda
hanya tersenyum dan berkata “Bunda percaya, doakan saja bunda semoga kuat
menghadapi semua ini. Semalam Rio mencoba mengejarmu yah, dan saat ini ia masih
terbaring di Rumah Sakit karna tertabrak truk.” Ayah menghela nafas panjang,
“ayah bingung harus bagaimana bun, ayah sudah dapat memikirkan bagaimana
kondisi anak-anak terutama Mawar, dia pasti sangat terpukul dengan kejadian
tadi malam.”
“Bagaimana
kondisi Rio dok?” aku dengan spontan brtanya pada dokter saat keluar dari ruang
operasi itu.
“Maaf bu,
kami tak bisa membantu banyak. Rio kehilangan kedua tangan dan kakinya, kami
tak bisa melakukan apa-apa.” Aku seakan melayang terbang, adikku harus
kehilangan masa depan, kaki dan tangan nya sudah hilang, aku tak tahu bagaimana
bunda saat mendengar ini, ini kejutan yang luar biasa tapi lagi dan lagi bunda
hanya tersenyum dan berkata “Bunda tak tahu apakah ini rahmat atau musibah,
bunda hanya ingin berbaik sangka kepada Alloh nak.” Hari berganti pun dengan
bulan, dan Mawar masih belum mau keluar dari kamar serta belum ada saksi dan
bukti yang menyatakan ayah bersalah atau tidak. Dan saat kami mencoba mendobrak
pintu kamar ia sudah terkapar lemah diatas ranjang, saat dokter memeriksa Mawar
ia mengatakan “bahwa kondisi Mawar sangat mengkhawatirkan, ia depresi berat.”
Ini kejutan berikutnya yang Alloh berikan untuk kami. Tiba-tiba ia terbangun
dan mengatakan “Ayah pasti kan pulang, ayah kan pulangkan bun?” bunda tersenyum sambil mengelus rambut
panjangnya.
Setelah
setahun sejak kejadian itu kondisi Mawar makin memburuk hingga dokter menyarankan
agar ia bibawa ke Rumah Sakit Jiwa, bunda tidak bisa menolak. Hari itu juga aku
dan bunda mengantarkannya ke Rumah Sakit. “Tidaaaakkkk... ayah akan pulang bun.
Aku mau nunggu ayah dirumah, gak mau disini” teriakan Mawar membuat hatiku
bergetar, malang nian nasib adikku ini, kejadian malam itu menjadi pukulan yang
berat baginya. “Sabar ya nak, bunda janji suatu hari nanti bunda akan membawa
ayah pulang” Air mata bunda kembali mengalir deras. Sampai saat ini tak ada
perkembangan terkait kasus yang dihadapi ayah, sampai saat ini status nya hanya
sebagai tersangka tanpa ada proses yang jelas. Kak Karang sudah menjadi preman
jalanan yang seakan tak punya lagi kehidupan, kepercayaannya pada ayah
benar-benar sudah hilang bahkan perkataan bunda pun tak lagi ia hiraukan dan
aku harus bekerja keras untuk membantu bunda menghidupi keluarga ini.
“Assalamu’alaikum..”
Salam bunda membangunkan lamunanku.
“Wa’alaikumussalaam.”
Aku berlari membukakan pintu untuk bunda.
“Kenapa
ini nak? Kenapa semua berantakan seperti ini, Karang sudah pulang?” bunda
terheran-heran melihat pecahan-peecahan guci berserakan.
“Aku sudah
pulang dan aku akan pergi.” Tiba-tiba kak Karang muncul dan berlari keluar dari
rumah.
“Begitulah
kelakuan anak sulung bunda, datang merusak semuanya dan pergi tanpa tahu malu,”
omelku pada bunda. Tapi lagi dan lagi bunda selalu membelanya.
“Sudahlah nak, kakakmu mungkin sedang khilaf.
Oh iya, bunda tadi sempat berkunjung ke penjara dan sampai saat ini belum ada
perkembangan.” Keluh bunda padaku.
“Ya sudah
bun, sekarang bunda bersih-bersih dulu kemudian langsung istirahat takutnya
bunda malah kecapean.” Ujarku sambil membereskan pecahan yang berserakan.
Pagi yang
cerah, seperti biasa aku menyalakan TV agar Rio dapat melihat info-info terbaru
didunia luar. Tiba-tiba diberitakan bahwa tadi malam telah terjadi tawuran di
gang rambutan yang menewaskan 3 orang laki-laki dan 1 perempuan dan ternyata
salah satu korban yang tewas adalah Karang Ahmad Khalid. Aku tertatih tak
percaya, kakakku pergi secepat itu.
“Bundaaaa..”
aku berteriak tak percaya ternyata kakakku pergi dalam kondisi seperti ini.
“Kenapa
nak?” bunda bingung melihatku dan Rio menangis bersamaan.
“Kak
karang bun, Kak Karang pergi.” Aku berkata terbata.
Akhirnya
bunda mencoba melihat TV, dan bunda hanya tersenyum pedih. “Alloh begitu
menyayangi hambaNya yang bersabar.” Kami bersiaga pergi ke Rumah Sakit yang
diberitakan tadi dan ternyata benar. Karang yang gagah perkasa kini terbujur
kaku dengan ditutupi sehelai kain putih. Ia dimakamkan di makam keluarga besar
kami, meskipun tak ada seorang pun yang hadir dari keluarga besar. Sepulang
dari pemakaman ada hal yang mengejutkan, ayah tengah duduk diruang tamu. Aku
bunda dan Rio merasa kaget dengan keberadaan ayah dirumah.
“Ayah
kenapa disini?” tanya bunda. “Ayah melarikan diri? Kenapa ayah melakukan ini?
Lanjutnya lagi.
Ayah
tersenyum manis, “Ayah sudah bebas, ayah dinyatakan tak bersalah. Semua yang
terjadi hanya manipulasi fakta untuk menjatuhkan nama Ayah dalam dunia bisnis”
Ujar ayah pada kami.
Aku bingung
harus berkata apa, rasa ini bercampur aduk. Marah, sedih, bahagia, kecewa,
anehh. Siapa yang harus aku salahkan? Siapa yang harus aku marahi? Siapa yang
harus aku benci? Dulu mereka menyeret ayah seakan yakin dengan kabar yang mereka bawa, hingga semua media
mengabarkan tentang bejatnya ayah yang kucinta dan bagaimana kehancuran
keluarga kita. Sekarang ayah bebas tanpa ada klarifikasi pernyataan tak
bersalah, tanpa ada media yang meliput. Selama 5 tahun aku dan keluarga ku
kehilangan hidup dan merasa tersiksa, aku kehilangan kakakku, adikku kehilangan
tangan dan kakinya bahkan Mawar kehilangan jiwanya, ternyata semua terjadi
hanya karna kepentingan seseorang saja, birokrasi tak dapat lagi ku percaya.
Inilah
indonesia saat ini, seperti dunia khayal. Semua menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan kepuasan mereka. Inilah negriku Indonesia, Negara yang penuh
retorika tanpa fakta nyata. Semua berdiri diatas kepentingannya masing-masing.
Sepotong episode hidupku hilang hanya karna mereka yang menginginkan kepuasan.
Tapi tak apa aku hanya seorang pemain yang harus berperan dengan baik, karena
skenario indah ada ditanganNya.