Seperti Umar dan Abu Bakar, seperti mawar dan rerumputan, mungkin
seperti itulah aku dan kau. Tentang saling. Tentang pengorbanan. Tentang
melengkapi. Segalanya tentang kita.
Di penghujung perjalanan, ada banyak terjal yang kadang tak sempat
kita paham. Di akhir pengabdian, sering hadir prasangka yang menggerogoti
percaya kita. Namun disanalah aku menemuimu dengan sebenar-benarnya kamu, tanpa
topeng yang kerapkali kau pakai di depan khalayak umum.
Tentang potret sahabat.
Dalam selaksa kisah kita berjalan dari keterasingan, hingga aku
(sekadar) mengenal namamu dan berjalan begitu jauh tanpa mengindahkan bahwa kau
ada di sini jua. Memang semua berlalu dengan begitu saja sampai akhirnya kita
dijumpakan di titik ini. Dengan masa yang tak sebentar, kita tumbuh dengan
beriringan, saling menopang.
Hai, tanpa sadar seringkali menyelinap rasa yang tak diharap hadir
karena semua perangaimu yang membuatku kesal, namun aku juga paham bahwa itulah
warna. Tanpa sadar, tak jarang jua kita saling melempar tawa dengan lepas, tak
mesti karena senang melainkan mentertawakan kondisi yang memang sedang tidak
bersahabat.
Sutradara kita memberi jalan cerita yang unik untuk kita. Kita
terjebak dalam cinta yang sangat dalam, entah aku harus menyebut ini ikatan
apa. Dari ikatan inilah tumbuh banyak rasa yang berkecamuk, banyak suasana aneh
yang asing.
Masa menggerogoti cerita, hingga akhirnya aku mengenalmu dan kau pun
memahamiku. Meski banyak hal yang belum aku tau darimu, namun setidaknya kita
sudah bisa saling mengeja nama-nama kita dalam robithoh yang kita miinta.
Menemuimu adalah bagai ada di tengah pelangi, sekalipun aku di
dalamnya namun sayang aku tak mampu memberi warna seindah warna yang kau beri.
Dan tentang kau?
Bersambung...