SURAT
TERBUKA
Teruntuk
yang saya hormati
Bapak
Yusep Sudrajat S. Pd dan bapak Agus Rahmat M.Ag, rasanya sudah sangat lama tak
jumpa bukan?
Terima
Kasih telah memberikan banyak pengajaran kepada semua anak didikmu, termasuk
aku salah satunya. Aku belajar banyak dari bapak, namun haruskah aku belajar
dari bapak untuk menyebarkan hal yang tidak benar adanya? Menyebar fitnah untuk
membunuh mental anak bangsa yang sedang ingin tahu tentang banyak hal?
Mendatangi orang tua dari beberapa anak yang sedang ingin belajar tentang
segala hal, lantas bapak mengatakan “anak anda ikut aliran sesat, beda akidah,
dsb.” Padahal tidak ada dasar atas apa yang bapak katakan. Saya jadi ingin
bertanya kepada bapak yang terhormat, apa sebenarnya makna sesat? Anak yang
mengikuti training motivsai dimana-mana, sesatkah? Atau anak yang kesehariannya
dekat dengan Al-Qur’an, sesat juga? Atau apa menurut bapak tentang sesat itu. Bukankah
salah satu diantara bapak itu guru agama, yang dulu mengajari kami tentang apa
itu sebuah fitnah, bukankah fitnah lebih kejam dari pembunuhan pak? Ah, saya
yakin bapak lebih faham daripada saya yang masih dangkal ilmunya.
Rasanya
ada yang aneh pak, padahal para remaja itu sedang ingin mencari hal baru untuk
dijadikan pengalaman ataupun pengarahan langsung dari lapangan untuk sebuah
pembelajaran dalam terjalnya kehidupan.. Teriring do’a dari anakmu yang jauh
disini, semoga cinta seorang guru tetap selalu terjaga untuk anak didiknya
hingga tak ada dusta antara kita. Semoga Allah menjadikan bapak sebagai wasilah
untuk membangun mental anak didik yang baik dan berbudi pekerti luhur, hormat
dan berkasih sayang terhadap sesama, tidak menggunakan berbagai cara untuk
mendapatkan apa yang ia inginkan, anak yang berbakti. Menjadikan anak didiknya
sebagai calon pendidik yang tidak mencedrai makna hebat seorang guru, menjadi
pendidik yang selalu mengerti dan memerhatikan anak didiknya dan mengerti akan sebuah
makna tentang seorang “Pendidik” bukan hanya pengajar yang bertingkah semaunya
tanpa memikirkan apa dampaknya.
Terima
kasih pak, saya belajar banyak dari bapak. Terutama tentang bagaimana seorang
pendidik yang baik, bukankah untuk tahu mana yang baik kita harus tahu
bagaimana yan buruk bukan?
Sekian,
bapak (yang mungkin masih harus) kami hormati.
Yogyakarta,
26 Februari 2014
Anak
didikmu, Dena Vidia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar