Label

Selasa, 19 Januari 2016

Masa masa lucu



SURAT TERBUKA
Teruntuk yang saya hormati
Bapak Yusep Sudrajat S. Pd dan bapak Agus Rahmat M.Ag, rasanya sudah sangat lama tak jumpa bukan?
Terima Kasih telah memberikan banyak pengajaran kepada semua anak didikmu, termasuk aku salah satunya. Aku belajar banyak dari bapak, namun haruskah aku belajar dari bapak untuk menyebarkan hal yang tidak benar adanya? Menyebar fitnah untuk membunuh mental anak bangsa yang sedang ingin tahu tentang banyak hal? Mendatangi orang tua dari beberapa anak yang sedang ingin belajar tentang segala hal, lantas bapak mengatakan “anak anda ikut aliran sesat, beda akidah, dsb.” Padahal tidak ada dasar atas apa yang bapak katakan. Saya jadi ingin bertanya kepada bapak yang terhormat, apa sebenarnya makna sesat? Anak yang mengikuti training motivsai dimana-mana, sesatkah? Atau anak yang kesehariannya dekat dengan Al-Qur’an, sesat juga? Atau apa menurut bapak tentang sesat itu. Bukankah salah satu diantara bapak itu guru agama, yang dulu mengajari kami tentang apa itu sebuah fitnah, bukankah fitnah lebih kejam dari pembunuhan pak? Ah, saya yakin bapak lebih faham daripada saya yang masih dangkal ilmunya.
Rasanya ada yang aneh pak, padahal para remaja itu sedang ingin mencari hal baru untuk dijadikan pengalaman ataupun pengarahan langsung dari lapangan untuk sebuah pembelajaran dalam terjalnya kehidupan.. Teriring do’a dari anakmu yang jauh disini, semoga cinta seorang guru tetap selalu terjaga untuk anak didiknya hingga tak ada dusta antara kita. Semoga Allah menjadikan bapak sebagai wasilah untuk membangun mental anak didik yang baik dan berbudi pekerti luhur, hormat dan berkasih sayang terhadap sesama, tidak menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, anak yang berbakti. Menjadikan anak didiknya sebagai calon pendidik yang tidak mencedrai makna hebat seorang guru, menjadi pendidik yang selalu mengerti dan memerhatikan anak didiknya dan mengerti akan sebuah makna tentang seorang “Pendidik” bukan hanya pengajar yang bertingkah semaunya tanpa memikirkan apa dampaknya.
Terima kasih pak, saya belajar banyak dari bapak. Terutama tentang bagaimana seorang pendidik yang baik, bukankah untuk tahu mana yang baik kita harus tahu bagaimana yan buruk bukan?
Sekian, bapak (yang mungkin masih harus) kami hormati.
Yogyakarta, 26 Februari 2014
Anak didikmu, Dena Vidia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar