Label

Selasa, 19 Januari 2016

Lingkaran



Repost tulisan Ahen :-)
Aktivitas melingkar kini sudah bukan barang langka. Lingkaran yang telah diberi nama dengan Halaqoh, Liqo atau mentoring sejatinya tak serumit saat bermula. Ia menjadi telaga disaat keringnya iman melanda. Menjadi Oase di setiap perjalanan iman yang penuh dengan godaan.

Lingkaran ini telah melahirkan manusia dari rahim tarbiyah dan melewati setiap anak tangga marhalahnya. Ia menjadi pengokoh atas ukhuwah dengan segala kemesraannya. Menjadi Pewarna di setiap garis lukis keceriaan perjumpaannya. Ya, Lingkaran inilah yang menjadi penawar atas segala penyakit hati dan pengikis nurani. Hingga kita menyebutnya menjadi sesuatu yang sangat sacral dan terjaga.

Namun, rasanya mata ini menjadi kesat saat terlirik tangan-tangan para binaan yang berkutik-kutik mengikuti alurt ombol pada selularnya. Padahal, bibir sang Murobbi masih basah melantunkan nasihat-nasihat lembutnya.  Telinga pun terasa gatal saat bunyi selular terus bordering disela-sela iftitah yang menggugah. Rasanya seperti buah merah menyala, namun pahit terasa.

Mungkin pernah pula, laku tutur tak terjaga saat diskusi tiba. Setiap lontaran kata seperti batu tajam yang menyisakan luka. Sabit sana potong sini, seolah yang lain salah di matanya. Padahal coba telisik ulang, bukankah telunjuk yang mengarah kepada saudara kita tidak lebih banyak disbanding sisajari yang mengepal menunjuk tepat diwajah kita?

Memang tak salah. Penting dalam lingkaran, mengasah ketajaman berpikir dan berpendapat. Suasana lingkaran pun berubah seperti rapat. Tapi, rasanya tak elok jika kedua kubu yang berseteru hanya Akh ini dan Akh Itu. Seolah Lingkaran hanya menjadi lahan pendewasaan bagi mereka yang berseteru. Dimana yang lainnya? Bukankah, tarbiyah mengajarkan pola partisipasi kolektif yang melibatkan semua anggotanya? Namun, masalah bias jadi tak sesederhana itu. Kondisi Kronis bias terjadi jika pada saat akut dibiarkan berlarut, disaat saudaranya berpendapat iajustru sibuk dengan update status facebook.

Naudzubillah, sepertinya lingkaran seperti itu sudah tak lagi berkah. Perlekatan ukhuwah menjadi lemah. Lingkaran yang semula subur menjadi kabur. Tak ada penghargaan atas ide-ide cemerlang. Tak ada penghormatan atas pendapat yang sudah tepat. Bubar dari lingkarannya, hanya membawa pulang kenangan yang tak berkesan. Lingkaran yang semula dirindukan, kini telah menjadi pedang yang tak lagi tajam. Masalahnya sederhana, perhatian.

Ukhuwah yang dibangun dengan segala bentuk perhatian, ia menjadi kuat melebihi kekuatan ikatan nasab. Maka jagalah ukhuwah ini hingga akhirnya kelezatan iman dapat dirasakan. Kekokohannya menjadi penyempurna iman. Seperti sebuah hadits yang dengan tegas mengatakan :
“Tidaklah dikatakan beriman diantara kamu sekalian, sehingga kamu mencintai sahabatmu, seperti mencintai dirimu sendiri. Dan manusia yang paling baik diantara kamu, adalah yang paling banyak manfaatnya” (HR. Muslim)

Konteksnya sangat jelas, ukhuwah yang terbangun atas nama cinta, ia akan berujung pada kemuliaan akhlak dan kebeningan jiwa. Ia akan mengantarkan pada pelakunya untuk duduk di permadani surga.
Pada saat itu, Muhammad saw bercerita. Di Surga nanti, mereka duduk di atas mimbar-mimbar cahaya. Mereka bercengkrama dengan penuh suka cita. Gaun yang mereka pakai terbuat dari cahaya, dari wajah mereka terpancar cahaya yang menggelora melebihi sang surya.

Para sahabat pun bertanya, siapakah mereka yang membuat para sahabat iri padanya. Dengan lembut tutur katanya, Muhammad saw menjawab, mereka bukanlah para malaikat, bukan pula para nabi dan rasul, apalagi sahabat. Mereka adalah dua orang yang saling mencintai karena-Nya.
Subhanalloh, Uhibbukumfillah yaukhayya.

Namun apa jadinya, jika lontaran kata cinta bertajuk uhibbukafillah ini sudah menjadi lalapan di setiap sms yang kita kirimkan. Sementara kalimatnya sudah tak lagi member makna apa-apa. Sontak, ukhuwah yang terbangun menjadi rapuh. Bahkan bias runtuh menjadi bongkahan-bongkahan masadepan yang akan mengganggu perjalanan panjang, perjalanan dakwah yang penuh dengan hambatan.

Ya, Tarbiyah tak lagi berkah,  Ukhuwah menjadi lemah. Bukan hanya karena kualitas lingkaran yang berkurang, tetapi karena ukhuwah yang tak lagi indah. Singkatnya, Kesakralan Lingkaran tak lagi terjaga. Kesucian Lingkaran tak lagi istimewa. Semua menjadi biasa-biasa saja. Karenanya, pertemuannya biasa. Persaudaraannya pun biasa. Tak ada beda dengan yang biasa ada.

Kita tentu berharap Lingkaran yang sudah terjadwalkan, tetap menjadi lingkaran yang dirindukan. Dinantikan oleh jiwa-jiwa kita yang senantiasa gersang. Lingkaran yang menjadi pewarna lukisan indah kehidupan kita. Karena di dalam lingkaran itu kita menemukan sesuatu yang tak biasa, beda dari apa adanya. Ia Istimewa, karena tali pengikatnya berdiri diatas cinta yang istimewa. Perpisahannya menumbuhkan kerinduan yang menggelora.
Untuk itu, mari kita jaga kesakralan Lingkaran kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar