Repost tulisan Ahen :-)
Aktivitas melingkar kini sudah
bukan barang langka. Lingkaran yang telah diberi nama dengan Halaqoh, Liqo atau
mentoring sejatinya tak serumit saat bermula. Ia menjadi telaga disaat
keringnya iman melanda. Menjadi Oase di setiap perjalanan iman yang penuh
dengan godaan.
Lingkaran ini telah melahirkan
manusia dari rahim tarbiyah dan melewati setiap anak tangga marhalahnya. Ia
menjadi pengokoh atas ukhuwah dengan segala kemesraannya. Menjadi Pewarna di
setiap garis lukis keceriaan perjumpaannya. Ya, Lingkaran inilah yang menjadi
penawar atas segala penyakit hati dan pengikis nurani. Hingga kita menyebutnya
menjadi sesuatu yang sangat sacral dan terjaga.
Namun, rasanya mata ini menjadi
kesat saat terlirik tangan-tangan para binaan yang berkutik-kutik mengikuti
alurt ombol pada selularnya. Padahal, bibir sang Murobbi masih basah
melantunkan nasihat-nasihat lembutnya. Telinga pun terasa gatal saat
bunyi selular terus bordering disela-sela iftitah yang menggugah. Rasanya
seperti buah merah menyala, namun pahit terasa.
Mungkin pernah pula, laku tutur
tak terjaga saat diskusi tiba. Setiap lontaran kata seperti batu tajam yang
menyisakan luka. Sabit sana potong sini, seolah yang lain salah di matanya.
Padahal coba telisik ulang, bukankah telunjuk yang mengarah kepada saudara kita
tidak lebih banyak disbanding sisajari yang mengepal menunjuk tepat diwajah
kita?
Memang tak salah. Penting dalam
lingkaran, mengasah ketajaman berpikir dan berpendapat. Suasana lingkaran pun
berubah seperti rapat. Tapi, rasanya tak elok jika kedua kubu yang berseteru
hanya Akh ini dan Akh Itu. Seolah Lingkaran hanya menjadi lahan pendewasaan
bagi mereka yang berseteru. Dimana yang lainnya? Bukankah, tarbiyah mengajarkan
pola partisipasi kolektif yang melibatkan semua anggotanya? Namun, masalah bias
jadi tak sesederhana itu. Kondisi Kronis bias terjadi jika pada saat akut
dibiarkan berlarut, disaat saudaranya berpendapat iajustru sibuk dengan update
status facebook.
Naudzubillah, sepertinya
lingkaran seperti itu sudah tak lagi berkah. Perlekatan ukhuwah menjadi lemah.
Lingkaran yang semula subur menjadi kabur. Tak ada penghargaan atas ide-ide
cemerlang. Tak ada penghormatan atas pendapat yang sudah tepat. Bubar dari
lingkarannya, hanya membawa pulang kenangan yang tak berkesan. Lingkaran yang
semula dirindukan, kini telah menjadi pedang yang tak lagi tajam. Masalahnya
sederhana, perhatian.
Ukhuwah yang dibangun dengan
segala bentuk perhatian, ia menjadi kuat melebihi kekuatan ikatan nasab. Maka
jagalah ukhuwah ini hingga akhirnya kelezatan iman dapat dirasakan.
Kekokohannya menjadi penyempurna iman. Seperti sebuah hadits yang dengan tegas
mengatakan :
“Tidaklah dikatakan beriman
diantara kamu sekalian, sehingga kamu mencintai sahabatmu, seperti mencintai
dirimu sendiri. Dan manusia yang paling baik diantara kamu, adalah yang paling
banyak manfaatnya” (HR. Muslim)
Konteksnya sangat jelas, ukhuwah
yang terbangun atas nama cinta, ia akan berujung pada kemuliaan akhlak dan
kebeningan jiwa. Ia akan mengantarkan pada pelakunya untuk duduk di permadani
surga.
Pada saat itu, Muhammad saw
bercerita. Di Surga nanti, mereka duduk di atas mimbar-mimbar cahaya. Mereka
bercengkrama dengan penuh suka cita. Gaun yang mereka pakai terbuat dari
cahaya, dari wajah mereka terpancar cahaya yang menggelora melebihi sang surya.
Para sahabat pun bertanya,
siapakah mereka yang membuat para sahabat iri padanya. Dengan lembut tutur
katanya, Muhammad saw menjawab, mereka bukanlah para malaikat, bukan pula para
nabi dan rasul, apalagi sahabat. Mereka adalah dua orang yang saling mencintai
karena-Nya.
Subhanalloh, Uhibbukumfillah
yaukhayya.
Namun apa jadinya, jika lontaran
kata cinta bertajuk uhibbukafillah ini sudah menjadi lalapan di setiap
sms yang kita kirimkan. Sementara kalimatnya sudah tak lagi member makna apa-apa.
Sontak, ukhuwah yang terbangun menjadi rapuh. Bahkan bias runtuh menjadi
bongkahan-bongkahan masadepan yang akan mengganggu perjalanan panjang,
perjalanan dakwah yang penuh dengan hambatan.
Ya, Tarbiyah tak lagi
berkah, Ukhuwah menjadi lemah. Bukan hanya karena kualitas lingkaran yang
berkurang, tetapi karena ukhuwah yang tak lagi indah. Singkatnya, Kesakralan
Lingkaran tak lagi terjaga. Kesucian Lingkaran tak lagi istimewa. Semua menjadi
biasa-biasa saja. Karenanya, pertemuannya biasa. Persaudaraannya pun biasa. Tak
ada beda dengan yang biasa ada.
Kita tentu berharap Lingkaran
yang sudah terjadwalkan, tetap menjadi lingkaran yang dirindukan. Dinantikan
oleh jiwa-jiwa kita yang senantiasa gersang. Lingkaran yang menjadi pewarna
lukisan indah kehidupan kita. Karena di dalam lingkaran itu kita menemukan
sesuatu yang tak biasa, beda dari apa adanya. Ia Istimewa, karena tali
pengikatnya berdiri diatas cinta yang istimewa. Perpisahannya menumbuhkan
kerinduan yang menggelora.
Untuk itu, mari kita jaga kesakralan
Lingkaran kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar