Label

Selasa, 19 Januari 2016

Aku dan BTT



Pagelaran Teorema Bidadari Tanpa Telunjuk?? Aku hanya kecewa, itu saja..!!!
Semua mengerti tentang arti hidup, mungkin. Namun angin tak bisa membukakan kebohongan yang dikunci rapat oleh cahaya. Pengorbanan adalah hal yang harus diutamakan dalam setiap langkah yang dipijakkan, tapi tak ada yang tak paham bahwa setiap daun akan mengalami kekeringan dan jatuh dari rantingnya. Kehidupan ini selalu berjalan mengalir sesuai dengan alur yang telah ditetapkanNya, hanya saja setiap jiwa berhak memilih mana yang akan ia perankan dengan kesungguhan atau keangkuhan. Menjadi sebuah kepastian bahwa malam akan bertemu dengan cahaya siang, pun sebaliknya. Maka sebagai jiwa yang tak mampu mengharumkan segenap nuansa, telah menjadi sebuah kewajiban untuk menjemput hujan yang tak kunjung datang dengan segenap kekuatan yang memberikan harapan kepastian atas segala cahaya.
Sejak bulan Januari sudah sering sekali aku mendengar, membaca dan melihat tulisan ini “#pagelaranteater2015 #seniuntuksemua #bidadaritanpatelunjuk  #belitiketsekarang”. Aku yang hidup di kota istimewa (katanya) merasakan sesuatu. Rasa yang tak mampu diungkapkan dalam seketika, karena melihat gelagat semangat disana yang makin hari seakan makin membunuhku. Padahal dalam waktu dekat aku harus menyelsaikan tugasku sebagai kordinator acara KPU untuk melaksanakan Sidang Umum pada waktu itu, menanti tanggal 26 januari berasa 1 tahun rasanya padahal diri ini sudah tak sabar untuk terbang ke “Kota peradaban” itu. Tanpa memikirkan apapun, dengan egoisnya aku pergi ke stasiun dan memberanikan diri pulang tanpa mempedulikan apa yang aku tinggalkan dengan apa yang aku lakukan saat ini.
Seperti biasa setelah sampai digubuk kecil itu, menyapa keduanya dan langsung janjian sama “orang-orang rempong” itu. Ya, sebut saja mereka semut merah. Kita nongkrong dirumahnya Nuy, dan seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya bahwa hal yang pertama dibahas adalah pagelaran. Pertanyaan pertama yang keluar dari rasa penasaran ini yaitu :
“Siapa pemeran utamanya? Aisya ya kalo gak salah?”
“Aisyanya mimi, Nden”
Sontak semua kaget mendengar itu.
“Mimi?????”
“Lha bukannya kemarin ada casting?”
“Mimi udah setujuu?” pertanyaa-pertanyaan yang tak perlu dijawab terus berlarian dari mulut ke mulut. kami masih setengah tak percaya dengan guyonan pada waktu itu. Ya, dikiranya bercanda doang.
“Beneraaannnn ih, katanya itu udah hasil istikharah sutradara nya lhoo..”
“Mungkin itu istikharah pendamping hidup, bukan pendamping kholip di pagelaran” celetukan canda khas ala kami kembali dikeluarkan untuk membuyarkan rasa kaget tadi. Diantara kita siapa yang tak kenal wanita yang satu ini, memang cocok sekali. Hanya saja untuk bermain peran mungkin terlalu kami terlalu kaget dan agak alay, karena ini adalah yang pertama kali baginya.
Tak lama dari itu yang sedang kita bicarakan tetiba datang, ia baru ada agenda dari Garut katanya. Dengan sesegera mungkin kita menyambut Aisya, dan histeris-histeris pertama bertemu yaaa sulit dihindarkan karena memang rasa rindu ini sudah memuncak. Inilah waktu yang tepat untuk mengekspresikannya. Ternyata benar, miong langsung mengeluarkan naskah yang baru saja ia print.
“Sudah sampe mana latihannya Am?”
“Belum pernah sama sekali, sore ini latihan pertama.” Katanya
Hmmmm... H-berapa, dan Aisya belum pernah latihan? Menurut pendapat pribadi ini sangat mengkhawatirkan, bukan tak percaya namun melihat kondisi miong yang pertama kali main dan posisinya sebagai pemeran utama, ditambah waktu yang seadanya pula. Pagelaran secara normalnya latihan itu berbulan-bulan dan H-sekian itu idealnya udah lepas naskah dan udah persiapan properti dan lain-lain. Namun tenang sajalah, kita masih punya kekuatan-kekuatan langit yang bisa dikerahkan.
Baiklaaahhhhh... (tarik napas panjang)
Yaaaaa, sudah tak aneh lagi ketika kita bertemu selalu ada rasa saling bermanja, saling mengeluh, saling meminta tolong, saling curcol, saling segalanyaa, dan dipertemuan pertama ini kita sedikit banyak menumpah ruahkan hal tersebut. Sejak saat itu kita mengagendakan jadwal latihan Aisya, dengan apa yang kami punya meski seadanya.
            Untuk kali pertama latihan bareng dengan semua pemain, dan ini pun menjadi kali pertama aku bertemu adik-adikku yang sudah sangat kurindukan. Ahhh, ternyata mereka sudah dewasa bahkan lebih dewasa dari apa yang aku bayangkan. Adikku, sudah lebih pandai mengayomi adik-adiknya lagi. melalui beberapa adegan dan kami rasa masih banyak hal yang harus dikembangkan dengan seorang Aisya. Dia pun mengakui atas semua kebingungan ekspresi yang harus dikeluarkan per adegan pada saat itu. Okee.. Kami tak boleh memanggilnya mimi sebelum pagelaran selsai melainkan dengan panggilan Aisya, agar Aisya dapat merasakan ruh bahwa kali ini dia akan menjadi Aisya. Selama seminggu, tepat dari tanggal 1-8 februari kita harus bertemu setiap hari, itu perjanjiannya. Karena pada tanggal 9 aku harus kembali ke Kota Istimewa itu, karena amanah yang lain mulai berteriak meminta untuk diselsaikan. Maka mau tidak mau dalam seminggu ini Aisya sudah harus bisa. Malam itu aku kembali mendapatkan ruh yang sudah lama hilang, tangisan Ahen waktu itu meluluhlantahkan semua keegoisan dan kembali mengingatkanku bahwa disini rumah pertamaku. Dan tetiba Aisya tersadar “mungkin sesuatu yang membuatku sulit untuk melakukan ini karena aku belum ikhlas, ya karena aku belum ikhlas Nden.” Malam itu Ahen membuat kami menjadi seperti wanita-wainta yang cengeng.
Hari demi hari pun mulai kami lalui, Aisya sangat semangat pun dengan kami yang ada disampingnya. Rumah Nuy selalu menjadi tempat kami untuk berisik dan berteriak-teriak pada waktu itu, setiap bertemu dengan Aisya bahkan pembicaraan kami selalu memancing Aisya untuk menjawab dengan dialognya, yang paling sering itu “Ummi kemana ka?” dan selalu saja Aisya menjawab seperti sedang bercerita kepada anak-anak, “Ummi sudah berangkat kerja dek, bla.. blaa.. blaa” atau dialog “Dasar kepala desa gila, bukannya simpati malah mengompori”, biasanya Aisya lebih responsif dengan dialog ini dengan menjawab “Cukup kholip!”. Memang ide-ide gila kami kadang berkeliaran begitu saja, hingga pada waktu itu untuk belajar ekspresi kita meminta Aisya untuk banyak nonton TV agar bisa melihat ekspresi artis-artis saat berakting. Nonton TBNH lah, Aisyah Putri lah, bahkan Saraswati Candra, dan yang paling parah untuk belajar ekspresi nangis kami coba nonton pinokio tapi ternyata pinokio malah menyita waktu latihan kami seharian ituu, kami malah nonton bareng sampe lupa sama latihan, akhirnya kami Cuma latihan 1 sesi hari itu. Bahkan kami mengagendakan untuk nginep dirumahnya Aisya untuk membicarakan sesuatu sekaligus latihan, tapi apa boleh buat ketika sudah kumpul semuanya menjadi obrolan yang mengalir, pun dengan malam itu. Sebuah kerinduan adalah konsekuensi bagi orang-orang yang sudah menjalin cinta, maka ingin rasanya membayar rindu itu dengan pertemuan-pertemuan yang berkualitas meskipun akhirnya tetap apa adanya. Ah, konyol sekali semua itu namun kami hanya ingin berusaha saja untuk memberikan yang terbaik adapun nanti terkait hasil, kami masih punya kekuatan-kekuatan langit dariNya.
Waktu terasa semakin jahat, menyiksa, bahkan membunuhku. Satu minggu hanya sedetik saja, aku harus beranjak. Hikks.. L namun aku meyakini takkan ada yang sia-sia dari semua ini, tepat tanggal 7 adalah latihan akbar kedua selama aku disini. Malam itu aku tak bisa membersamai Aisya sampai akhir, pukul 21.00 harus pulang. Terlalu banyak mendzolimi mamah dirumah juga kurang baik nampaknya karena beliau juga mempunyai hak atas diri ini, toh besok kami juga masih bisa membersamai Aisya di TKP langsung. Inilah moment yang dirindukan, abring-abringan ke ciamis seperti pawai, tempat bertemu kita tak pernah berubah dari dulu tetap di sekre sementara kita MA Pnb. Kita belusukan dulu kedalam pasar untuk mencari tempat kangkungnya Aisya pada waktu itu, kuda-kuda besi kami pun sudah terlatih untuk segera menyusuri arena balapan kami dulu. Tak banyak yang berbeda dari arena balapan kami, bahkan kita masih harus berteriek mengingatkan Aisya tentang lampu sen yang sering sekali ia lupa matikan, yang berbeda adalah kami nggak lagi reptil karena hanya ada 2 ekor kuda besi. L
Ada degup jantung yang lebih kencang dari biasanya. Ya, meihat tempat yang megah itu ada rasa waswas dan cemas bagi kami yang baru tiba pada waktu itu namun semangat dari mata-mata bergelora sang pemain lainnya meluluhkan semua rasa kacau itu. Mempersiapkan segala hal untuk latihan menghabiskan waktu agak lama ternyata, padahal janjiku pada mama bisa pulang pukul 13.00 untuk packing keberangkatan nanti malam. Apa boleh buat latihan sessi pertama baru dimulai pukul 10.00, lagi dan lagi aku harus mendzolimi mamahku tercinta. Kami melihat Aisya yang baru, seminggu yang kami lalui dengan penuh kegajean itu ternyata bukan hanya celotehan biasa. Gaya berceritanya saat ditungku sudah mulai hilang, suara lembutnya pun sudah mulai menyesuaikan peran. Aku bisa kembali ke Kota Istimewa tanpa sebuah kekhawatiran, tapi saat kekhawatiran hilang justru sebuah ketakutan menyerang. Mungkinkah kan bisa menyaksikan pagelaran agung ini pekan depan? Sessi 1 selesai dan peluk hangat diiringi isak tangis penuh haru dan bahagia dari kalian (SM) membuang jauh sejenak pikiranku yang amat jahat itu. Ya, disini aku bahagia dengan segala kerempongan yang selalu hadir. Aku bahagia karena disini kami tak pernah bekerja dalam sepi, disini selalu bersama.
Ditengah keriuhan latihan sessi 2 tetiba Aisya mendekat, memeluk erat dan membisikkan sesuatu dengan suara terseka dan mata berkaca. “Ada rasa lelah saat ini, saat melihat kalian sangat lelah dengan hari ini.” Ya, latihan dari tadi malam sepertinya menguras banyak energi dari setiap crew yang hadir. Sakit memang ketika aku pun harus melihat hal itu, tapi inilah upaya dan usaha kita bersama. Seketika mutiara dari mata ini balapan berebut untuk hadir dipelipis mata lebih dulu. Kembali kupeluk erat tubuh yang lusuh itu dan dengan sesegera ku hapus resahnya, “namun selalu ada rasa lillah yang menancap dalam setiap hati kita yang takkan menggoyahkannya.” Ya, sejatinya apa yang sedang kami perjuangkan saat ini hanyalah wasilah untuk sebuah pengabdian padaNya.
 Saat bara api itu tak ada yang mau menggenggam maka kitalah yang harus memainkan bola api itu bukan justru menganggap aneh dan asing. Ya, teater ini merupakan sesuatu yang sangat langka disini, maka ada konsekuensi besar yang harus diambil saat kita akan mewarnai dari bidang tersebut. Peluang dan resiko itu seperti koin uang, semakin besar peluang yang akan kita dapatkan maka akan semakin besar pula resiko yang akan kita dapatkan dan sebaliknya. Kita hanya ingin mencoba memberi warna dengan warna lain saja, agar pelangi itu makin indah dan tidak terlihat kaku salah satulah dengan inilah kami menyampaikan pesanNya.
Ketika latihan usai kami meninggalkan wajah lusuh adik-adik terlebih dahulu, mengingat aku harus terbang ke Kota Istimewa itu dan Aisya yang harus kembali kuliah esoknya. Gelap..!!!! tak ada cahaya sedikitpun, kami diguyur oleh RohmahNya melalui air deras yang tak berperasaan ini. Kami tak mungkin berhenti sejenak saja untuk mencari teduh, karena mengingat waktu yang sudah mengejar-ngejar kami. Udara dingin menusuk sampai ke tulang berulang kami, ternyata air deras itu masih ingin bersama kami sampai akhir perjalanan di Panumbangan. Saat kami turun untuk bertukar pasangan, tetap sajaa guyonan itu tak hilang. Ini adalah air penghapus lelah keringat hari ini, dipersimpangan ini kami mengakhiri perjumpaan pekan ini. Tentang pekan depan? Entahlah aku belum bisa memikirkan hal tersebut karena ada sedikit hal mustahil aku harus kembali dalam waktu yang berdekatan.
Mamah, beliau selalu banyak berkorban perasaan karenaku. Harusnya ia memarahiku, tapi nampaknya air hujan itu menyelamatkanku. Gulita pun menyapa tanpa duka, aku harus kembali. Pasundan sudah menampakkan tubuhnya untuk menjemputku ke Kota Istimewa itu. Selama perjalanan pun aku merasa masih ada yang tertinggal di Ciamis, entah apa itu. Tanpa sadar wanita yang sudah lama sok kuat ini ternyata menangis. Sedih? Bukan, melainkan ada rasa kecewa.
Aku seperti orang hilang yang tak mempunyai arah tujuan, ternyata ruh dan hatiku masih tertinggal. Ya, aku masih mendengar tawa itu disini, aku masih melihat Aisya dan Kholip disini, aku masih merasakan rempong itu disini, dan aku seperti tak berada disini. Untuk menjalankan amanah segudang pun hanya jasad saja yang hadir sehingga semuanya mengalir seperti air tanpa bendungan. Tepat tanggal 12, pagi itu mendapat kabar kalau aku harus mengikuti rapat bareng dekanat malam minggu. Semua pun mulai tak karuan, aku ingin lenyap saja. Seakan terjadi perang dingin dalam diri ini dan entahlah siapa yang akan memenangkan perang dingin ini.
“Mah, Na pulang ya sekarang.” Ujarku saat ditelepon ba’da magrib itu.
“Gak usah bercanda gitu.” Ternyata yang nyahut suara bapak, beliau baru pulang dari perantauan
“Serius pak, sekarang Na udah nyampe stasiun Banjar pak.”
“Hmmmm.. pinter yaa, kalo udah di Banjar masa bapak suruh balik ke Yogya.” Jawabnya lagi
Lagi dan lagi aku nekat kabur begitu saja, semoga ini menjadi langkah terbaik yang bisa bermanfaat bagi semuanya. Bisa dikatakan inilah titik kelemahanku, ketika menginginkan sesuatu maka semuanya harus bisa dilakukan dengan cara apapun. Bahkan saat itu harus mendzolimi temen-temen disana, dengan menolak diajak rapat bareng dekanat, absen dari hijab day, dsb. Namun semoga saja keegoisan ini tidak terlalu berdampak buruk bagi semua orang, cukup aku saja.
            Kantor GEMA terlihat sudah mengepul dengan asap pop corn pada siang itu, bu konsumsi (Nuy) sudah riweuh dengan semua properti nya. Aku sudah siap menjadi “tukang ojeg” untuk bu konsumsi, kesana kemari mencari semua peralatan untuk konsumsi. Tak cukup dengan satu balikan saja ternyata, entah salah beli pelastik lah, dus nya kelupaan beli lah, tukang lemper nya gak ada lah dan semuanya. Kerempongan itu kembali menjadi harian kita selama beberapa hari ini, aku berasa kembali hidup dimasa 2 tahun lalu yang merasakan benar-benar tentang makna dari perjuangan dan pengorbanan. Dalam suasana gaduh ini sama sekali si sam teralihkan dari tanganku, sehingga ketika ia kembali kubuka ada 50 panggilan tak terjawab dari teman-teman di Jogja. Apa yang terjadi disana? Ternyata file AD ART GBHO BEM FBS yang saat SU kita bahas sampai dini hari itu hilang. Jleebbb, untuk saat ini hanya bisa menelan ludah kering saja. Sesaat sampai dirumah pun segera kubuka beberapa flashdisk yang digunakan saat SU berlangsung, sampai 5 kali lebih kubulak balik buka hasilnya tetap saja nihil. Entahlah bagaimana harus mempertanggungjawabkan hal ini kepada banyak orang, mungkinkah ini ujian atau rahmat dariNya? Aku hanya ingin berbaiik sangka kepada Allah. T_T
            Rasa demi rasa terus saja silih bergantian dalam benak ini. Bagaimana tidak setelah lama patah hati karena ditinggal teteh menikah dan kini kami dapat bertemu dalam pertemuan yang sesingkat-singkatnya dan tidak jelas. Pasangan yang baru pacaran itu pulang ke rumah hari sabtu pagi dan akan pindahan ke Jakarta tanggal 15, katanya. Artinya mereka akan pindahan ketika pagelaran. Hmmmmm..... ini bukan hal mudah untukku, sehingga kegalauan-kegalauan itu kembali merasuki  setiap urat nadi dan membuatku kikuk pada hari itu. Perjalanan dari ciawi sampai kerumah saat menjemput dengan berbagai macam pembicaraan yang kami perbincangkan di dini hari itu. Aku kembali nekat dengan menyakiti orang-orang yang selalu memberiku perhatian itu, keputusan untuk tidak ikut ke Jakarta nampaknya agak menyayat hati. Bukan hanya mamah, bapak ataupun sepasang yang baru pacaran itu tapi aku pun sakit karena bisa jadi ini menjadi pertemuan terakhir dalam jangka waktu dekat ini. Namun yasudahlah, niat pertamaku pulang untuk pagelaran, hanya do’a yang ikut mengiringi kesana.
            Rempongers kembali menyiapkan hal-hal yang harus dibawa ke Ciamis siang ini. Ditengah semua keriuhan kita menyempatkan menjenguk saudara kita yang sedang sakit, Titin. Reptil selalu membuat kami tak bisa berhenti berceloteh saat diatas motor hingga pada saat itu si ijo hampir saja berciuman dengan truk.  Bagaimanapun kondisinya tetap saja tawa itu tak bisa hilang, rombongan berangkat ke ciamis ba’da ashar sedangkan aku masih harus pulang untuk berpamitan karena besok ketika harus berangkat ke Jogja tak bisa bertemu dulu dengan keluarga tercinta dan berangkat menyusul ke TKP ba’da magrib. Allah begitu paham untuk memberikan kesempatan kepada hambanya agar belajar ikhlas dan sabar, aku tidak dipertemukan dengan kedua orang yang baru pacaran itu ternyata karena mereka belum kembali dari Tasik. Sepanjang perjalanan aku memerhatikan semua motor yang berpapasan denganku, karena masih ada harapan barangkalai Allah akan mempertemukan kita dijalan namun semuanya pupus. Hujan deras membutakan mataku, hujan saat itu sama persis dengan hujan sebelum aku dijemput oleh pasundan pekan kemarin. Semua rasa masih bercampur, tentang AD ART lah, tentang RKPT yang harusnya ku ikuti malam itu lah, dan tentang teteh yang tak bertemu dulu dengan adeknya yang unyu ini.
            Hitam sudah lengkap menyelimuti seluruh bumi dan air sepanjang perjalanan meninggalkan dingin yang menusuk hingga sel darah membeku. Semua rasa tetiba hilang ketika melihat semua crew yang semangat mendekor dan persiapan glady resik malam itu. Lagi dan lagi pelukan selalu menjadi obat ditengah rasa yang bersebrangan. Aku mencintaimu SM, karenaNya. Bu konsumsi masih repot dengan pop corn nya, namun aku harus beralih tempat kerja kebelakang panggung.
“Lakukan semuanya dengan hati am, kita masih Lillah kan? Pasti bisa!” bisikanku untuk Aisya ketika memulai latihan terakhir itu lagi lagi membuat hati bergetar dan berhasil memancarkan air yang tak terduga dari mata kami. Ahh, terlalu terlihat cengeng. Namun inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, ketika kita totalitas. Menjelang pagi dari tanggal 15 glady resik masih belum selsei bahkan sampai ada pemain yang tertidur saat latihan. Yang sangat kece pada saat itu adalah kita harus membangunkan Nuy dan Ilin yang baru tertidur satu jam yang lalu untuk pulang ke Cihaur mengambil konsumsi yang masih tertinggal disana. Luar biasa! Dini hari itu saat pemain sudah harus beristirahat aku dan Opee melanjutkan tugas untuk menyetrika kostum para pemain guna meminimalisir kerempongan pagi nanti, kami nyetrika ditemani Kang Engko dkk yang tidak tertidur malam itu. Tepat pukul 4 pagi kami berdua berangkat ke Masjid Agung, lagi dan lagi aku mendzolimi orang yang kucinta. Bapak menyengajakan ke Ciamis untuk menukarkan motor karena si Ijo akan ikut ke Jakarta. Ahh, aku terlalu durhaka.
            Waktu begitu cepat sang fajar mulai menyapa dengan lembutnya. Semua sudah siap dengan posisi masing-masing. Kami mulai melengkapi semuanya, Nuy dan Ilin bertugas didepan sedangkan aku, Opee dan Aisya tugasnya dibelakang. Layar. Semua pemain sudah siap dengan penampilan terbaik mereka. Saat mendengar musik yang mulai beralun jantung ini kembali berdegup lebih kencang dari biasanya, ini dirasakan oleh semua orang nampaknya karena ini merupakan pertanda bahwa peserta sudah mulai berdatangan. Aisya sudah siap dengan kostum dan segala propertinya, hari ini adalah waktu untuk melihat proses kami beberapa pekan ini. Kami selalu meyakini bahwa hasil takkan pernah mengkhianati proses, kami tahu bagaimana pengorbanan dan perjuangan Aisya untuk keluar dari dirinya sendiri dan bersama sama kami saling menguatkan.
“Mulai semuanya dari sini (sembari memegang tangannya dan menunjukkan ke hatinya), tarik nafas. Ingat kita masih melakukan semua ini karenaNya, ini latihan terakhir karena besok takkan ada latihan lagi, siap totalitas mi.” Kalimat itu membuka hari ini, dag dig dug pemain seakan menggemakan ruangan ini. Satu hal yang mengejutkan ketika kami harus mengangkat kursi dari belakang panggung karena peserta membeludak, sontak ini pun menadi ledakan semangat bagi semua pemain ketika melihat antusias peserta yang banyak.
Jreeeennnggggg....
Para ibu-ibu yang baru saja selsei menari lagi riweuh berganti kostum saat tembang sedang dialunkan. Kata-kata semangat bermunculan dari masing-masing pemain. Dan bu Alis, Opee dan aku pun mulai terbakar dengan semangat-semangat menggelora.
“Semangat, dihadapan kalian ada 600 orang yang akan kalian dakwahi. Berikan yang terbaik, totalitas! Anggap saja ini latihan terakhir kita dan besok takkan ada latihan lagiii.”
Kata-kata motivasi keluar dari mulut ke mulut. Tibalah pagelaran dimulai.
“Am, all izz well, ini karenaNya. Lakukan semuanya dengan hati, ini adalah latihan terakhir maka totalitaslah. Ingat perjalanan kita untuk mempersiapkan ini semua, berikan yang terbaik.” Sebuah pelukan yang mengantarkan Aisya naik ke panggung. Adegan demi adegan mulai berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan aku sangat menikmati peranku dibelakang panggung. Banyak hal-hal unik yang ada, tragedi mic yang harus lari-lari dari podium kiri ke kanan, para pemain yang kadang lupa jatah munculnya, mukena Aisya yang tertinggal dipanggung, properti yang lupa naro entah dimana.
Tawa dan tepuk tangan peserta membawa crew dibelakang panggung ikut euforia penonton, kita terhanyut dengan cerita yang dibawakan. Tak jarang ketika ummi turun dari panggung bu Alis harus menyiapkan tissu untuknya karena make up ummi luntur oleh air mata tangis. Aku merinding, ada berjuta kebahagiaan diruangan ini dan saat itu aku benar-benar merasakan kekuatan-kekuatan langit turun untuk melengkapi apa yang ingin kami sampaikan. Ya, semua pemain sangat berbeda dari latihan-latihan sebelumnya. Semua berubah drastis, menjadi lebih baik karena kami selalu meyakini bahwa takkan ada sesuatu apapun yang terjadi melainkan karena campur tanganNya.
“Aku akan pergi ke Negri orang, mencari ilmu dan penghidupan. Hingga aku pulang dengan telunjuk baru, telunjuk yang dengannya aku bisa mengarahkan semua orang menuju kebaikan. Dan maukah kau bersabar menungguku Kholip? Hingga Allah mengizinkan, aku menjadi wanita halal bagimu.” Kalimat yang ku dengar itu membawaku dan Opee berlari kebelakang untuk menyambut Aisya yang turun dari podium sebelah kanan, kami berpapasan dan saling memangdang. Menunduk berpelukan dalam tangis yang tak tertahankan, Aisya sudah berhasil memainkan perasaan banyak orang dan itu lebih dari apa yang kita bayangkan. Ditengah tangis bahagia itu tetiba sang sutradara kebelakang, “Mia kereennn.” Sambil teriak. Ganggu kita banget gak sih? Hehee.. kami juga mengakui bahwa sahabat kami yang bernama Asep yang kadang egois itu berhasil menjadi seorang sutradara hebat pada hari itu.
            Tetiba ada yang menarik Mimi dari pelukan kami, aku pun hampir lupa kalau dia masih harus naik panggung untuk menyanyikan soundtrack bareng-bareng. Nuy dan Ilin menyusul kami yang dibelakang panggung, tangisan bahagia itu berlanjut saat Aisya turun dari panggung. Meski hari itu ada yang kurang lengkap dari Semut Merah tapi kami yakin yang jauh disana pun merasakan kebahagiaan hari ini. Yang membuat kami terkejut, Titin yang hari sebelumnya kami jenguk tetiba ada ditengah-tengah kami waktu itu. Pagelaran usai, semua selsai. Inilah bahagia yang sederhana tanpa harus ada syarat makna. Aku tidak menyesal dengan semua keputusan yang kuambil, berapa banyak pun yang terdzolimi semoga Dia mengerti karena semua hanya karenaNya. Aku harus kembali ke Kota Istimewa itu malam ini juga, bisa jadi ini kali pertama untukku saat harus pergi tanpa ada siapapun dirumah.
            Banyak hal yang aku dapat dalam libura ini, karena ini cerita baru kami dalam perjalanan ini. Tulisan diatas hanyalah sepenggal cerita yang masih ada dimemori karena ketika harus menuliskan semuanya nampaknya 1 buku pun takkan mewakili seluruh isi hati. Dari semua kisah yang menarik itu ada satu hal yang membuatku selalu merasa dihantui, di pagelaran Bidadari Tanpa Telunjuk ini aku hanya merasa kecewa, itu saja.
Aku hanya kecewa, itu sajaa..!!!
Aku hanya kecewa kepada diriku sajaa, aku belum bisa memberikan kontribusi lebih dalam pagelaran ini, tak bisa satu pun tiket yang keluar dari tanganku untuk kujual hingga harus menyerahkan uang dengan tiketnya juga, belum bisa membantu laskar proposal untk berkeliaran kesana kemari. Aku hanya kecewa atas diri sendiri, kenapa adek-adekku harus bekerja lebih keras, kenapa aku belum bisa memberikan waktuku seutuhnya, dan kenapa aku harus punya kewajiban lain yang harus kutunaikan selama persiapan pagelaran.
Ah, sudahlahh..
Jika aku terus tenggelam dalam kecewa dan rasa malu maka aku akan kehilangan semua rasa bahagia, maka terima kasih telah mengijinkanku untuk melakukan apa yang bisa kulakukan. Terima kasih Pak Sutradara telah memberikanku kesempatan untuk belajar banyak disini. Terima kasih GEMA, selalu menjadi keluarga yang menerimaku apa adanya bukan ada apanya. Terima kasih mamah dan bapak yang selalu berkorban perasaan selama aku terlibat dipagelaran. Terima kasih untuk adik-adikku yang telah memberikanku sejuta inspirasi baru.
            Disini satu hal yang selalu membuatku berbeda ketika aku berada ditempat yang lain. Disini aku tak pernah hidup sendiri, dan bekerja dalam sepi. Kalian selalu ada, terima kasih semut merah. Meski kadang tak sedikit yang selalu mengece tentang kebrisikan kita namun disanalah kita berproses. Sangat jarang kita menggunakan jargon “Dalam diam kita bekerja.” Melainkan kita selalu bekerja dalam kondisi apapun atau bahkan mungkin menciptakan keramaian dalam setiap kerja yang membuat bising semua orang, namun tak apa karena kita hanya berproses karenaNya saja bukan yang lain. Selalu saja kalian memberikan energi baru dalam setiap perjalanan, dan napas kehidupan yang meski kadang sering sekali kita bersebrangan pendapat dan bahkan tentang segala hal namun disanalah disana kita belajar tentang kerjasama dan saling menghargai satu sama lain. terima kasih napas kehidupan.
            Terima kasih Allah, Kau anugrahkan hal yang paling indah dalam perjalanan hidup ini, Kau hadirkan aku ditengah mereka yang bahkan sebelumnya tak kukenal, namun karenaMu ikatan-ikatan ini semakin menguat hingga aku mengenal mereka bukan hanya sebatas sahabat, kakak kelas, ataupun adik kelas, melainkan keluarga yang selalu menautkan hati ini kepadaMu.
            Terima kasih Allah, Kau kerahkan kekuatan-kekuatan langit pada hari itu. Aku menyaksikan langsung KuasaMu dalam memberika apa yang dibutuhkan makhlukMu bukan apa yang diinginkannya. Engkau memberikan kesempatan kepada kami untuk membumikan bahasa langit dengan pagelaran itu. Istiqomahkanlah kami wahai Sang Maha dari segala Maha.
Kerinduan adalah konsekuensi dari orang-orang yang sudah mencintai maka dimanapun kita saat ini, mari maknai setiap perjalanan hidup karena masing-masing kita dibumi ini hanyalah seorang pemain yang sedang menjalankan skenarioNya. Seorang pemain yang harus totalitas denganperan masing-masing yang telah diamanahkanNya.
Maaf, aku kecewa..
Andai mentari hilang dari permukaan maka bulan akan hadir dengan ketenangan. Memetik setiap rasa yang tak berkesempatan hilang dengan menumbuhkan sejuta warna yang saling bergantian. Andai saja jantung masih berkesempatan untuk berdetak, Ijinkan kami memutar pusaran tuk menerjang gelombang, menghalau arus yang kian menjijikan dengan telunjuk yang mampu menyihir semua manusia untuk tunduk kepadaNya, menggiring semua ruh-ruh yang merindukan kedamaian, mencabut semua kotoran-kotoran bumi yang berserakan, menyentuh setiap hati yang kekeringan, membumikan bahasa langit yang yang Kau titipkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar