Pagelaran Teorema Bidadari Tanpa
Telunjuk?? Aku hanya kecewa, itu saja..!!!
Semua
mengerti tentang arti hidup, mungkin. Namun angin tak bisa membukakan
kebohongan yang dikunci rapat oleh cahaya. Pengorbanan adalah hal yang harus
diutamakan dalam setiap langkah yang dipijakkan, tapi tak ada yang tak paham
bahwa setiap daun akan mengalami kekeringan dan jatuh dari rantingnya.
Kehidupan ini selalu berjalan mengalir sesuai dengan alur yang telah
ditetapkanNya, hanya saja setiap jiwa berhak memilih mana yang akan ia perankan
dengan kesungguhan atau keangkuhan. Menjadi sebuah kepastian bahwa malam akan
bertemu dengan cahaya siang, pun sebaliknya. Maka sebagai jiwa yang tak mampu
mengharumkan segenap nuansa, telah menjadi sebuah kewajiban untuk menjemput
hujan yang tak kunjung datang dengan segenap kekuatan yang memberikan harapan
kepastian atas segala cahaya.
Sejak
bulan Januari sudah sering sekali aku mendengar, membaca dan melihat tulisan
ini “#pagelaranteater2015 #seniuntuksemua #bidadaritanpatelunjuk #belitiketsekarang”. Aku yang hidup di kota
istimewa (katanya) merasakan sesuatu. Rasa yang tak mampu diungkapkan dalam
seketika, karena melihat gelagat semangat disana yang makin hari seakan makin
membunuhku. Padahal dalam waktu dekat aku harus menyelsaikan tugasku sebagai
kordinator acara KPU untuk melaksanakan Sidang Umum pada waktu itu, menanti
tanggal 26 januari berasa 1 tahun rasanya padahal diri ini sudah tak sabar
untuk terbang ke “Kota peradaban” itu. Tanpa memikirkan apapun, dengan egoisnya
aku pergi ke stasiun dan memberanikan diri pulang tanpa mempedulikan apa yang
aku tinggalkan dengan apa yang aku lakukan saat ini.
Seperti
biasa setelah sampai digubuk kecil itu, menyapa keduanya dan langsung janjian
sama “orang-orang rempong” itu. Ya, sebut saja mereka semut merah. Kita
nongkrong dirumahnya Nuy, dan seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya bahwa
hal yang pertama dibahas adalah pagelaran. Pertanyaan pertama yang keluar dari
rasa penasaran ini yaitu :
“Siapa
pemeran utamanya? Aisya ya kalo gak salah?”
“Aisyanya
mimi, Nden”
Sontak
semua kaget mendengar itu.
“Mimi?????”
“Lha
bukannya kemarin ada casting?”
“Mimi
udah setujuu?” pertanyaa-pertanyaan yang tak perlu dijawab terus berlarian dari
mulut ke mulut. kami masih setengah tak percaya dengan guyonan pada waktu itu.
Ya, dikiranya bercanda doang.
“Beneraaannnn
ih, katanya itu udah hasil istikharah sutradara nya lhoo..”
“Mungkin
itu istikharah pendamping hidup, bukan pendamping kholip di pagelaran” celetukan
canda khas ala kami kembali dikeluarkan untuk membuyarkan rasa kaget tadi.
Diantara kita siapa yang tak kenal wanita yang satu ini, memang cocok sekali.
Hanya saja untuk bermain peran mungkin terlalu kami terlalu kaget dan agak alay,
karena ini adalah yang pertama kali baginya.
Tak
lama dari itu yang sedang kita bicarakan tetiba datang, ia baru ada agenda dari
Garut katanya. Dengan sesegera mungkin kita menyambut Aisya, dan
histeris-histeris pertama bertemu yaaa sulit dihindarkan karena memang rasa
rindu ini sudah memuncak. Inilah waktu yang tepat untuk mengekspresikannya.
Ternyata benar, miong langsung mengeluarkan naskah yang baru saja ia print.
“Sudah
sampe mana latihannya Am?”
“Belum
pernah sama sekali, sore ini latihan pertama.” Katanya
Hmmmm...
H-berapa, dan Aisya belum pernah latihan? Menurut pendapat pribadi ini sangat
mengkhawatirkan, bukan tak percaya namun melihat kondisi miong yang pertama
kali main dan posisinya sebagai pemeran utama, ditambah waktu yang seadanya
pula. Pagelaran secara normalnya latihan itu berbulan-bulan dan H-sekian itu
idealnya udah lepas naskah dan udah persiapan properti dan lain-lain. Namun
tenang sajalah, kita masih punya kekuatan-kekuatan langit yang bisa dikerahkan.
Baiklaaahhhhh...
(tarik napas panjang)
Yaaaaa,
sudah tak aneh lagi ketika kita bertemu selalu ada rasa saling bermanja, saling
mengeluh, saling meminta tolong, saling curcol, saling segalanyaa, dan
dipertemuan pertama ini kita sedikit banyak menumpah ruahkan hal tersebut.
Sejak saat itu kita mengagendakan jadwal latihan Aisya, dengan apa yang kami
punya meski seadanya.
Untuk kali pertama latihan bareng
dengan semua pemain, dan ini pun menjadi kali pertama aku bertemu adik-adikku
yang sudah sangat kurindukan. Ahhh, ternyata mereka sudah dewasa bahkan lebih
dewasa dari apa yang aku bayangkan. Adikku, sudah lebih pandai mengayomi
adik-adiknya lagi. melalui beberapa adegan dan kami rasa masih banyak hal yang
harus dikembangkan dengan seorang Aisya. Dia pun mengakui atas semua
kebingungan ekspresi yang harus dikeluarkan per adegan pada saat itu. Okee.. Kami
tak boleh memanggilnya mimi sebelum pagelaran selsai melainkan dengan panggilan
Aisya, agar Aisya dapat merasakan ruh bahwa kali ini dia akan menjadi Aisya.
Selama seminggu, tepat dari tanggal 1-8 februari kita harus bertemu setiap
hari, itu perjanjiannya. Karena pada tanggal 9 aku harus kembali ke Kota
Istimewa itu, karena amanah yang lain mulai berteriak meminta untuk
diselsaikan. Maka mau tidak mau dalam seminggu ini Aisya sudah harus bisa.
Malam itu aku kembali mendapatkan ruh yang sudah lama hilang, tangisan Ahen
waktu itu meluluhlantahkan semua keegoisan dan kembali mengingatkanku bahwa
disini rumah pertamaku. Dan tetiba Aisya tersadar “mungkin sesuatu yang
membuatku sulit untuk melakukan ini karena aku belum ikhlas, ya karena aku
belum ikhlas Nden.” Malam itu Ahen membuat kami menjadi seperti wanita-wainta
yang cengeng.
Hari
demi hari pun mulai kami lalui, Aisya sangat semangat pun dengan kami yang ada
disampingnya. Rumah Nuy selalu menjadi tempat kami untuk berisik dan
berteriak-teriak pada waktu itu, setiap bertemu dengan Aisya bahkan pembicaraan
kami selalu memancing Aisya untuk menjawab dengan dialognya, yang paling sering
itu “Ummi kemana ka?” dan selalu saja Aisya menjawab seperti sedang bercerita
kepada anak-anak, “Ummi sudah berangkat kerja dek, bla.. blaa.. blaa” atau
dialog “Dasar kepala desa gila, bukannya simpati malah mengompori”, biasanya
Aisya lebih responsif dengan dialog ini dengan menjawab “Cukup kholip!”. Memang
ide-ide gila kami kadang berkeliaran begitu saja, hingga pada waktu itu untuk
belajar ekspresi kita meminta Aisya untuk banyak nonton TV agar bisa melihat
ekspresi artis-artis saat berakting. Nonton TBNH lah, Aisyah Putri lah, bahkan
Saraswati Candra, dan yang paling parah untuk belajar ekspresi nangis kami coba
nonton pinokio tapi ternyata pinokio malah menyita waktu latihan kami seharian
ituu, kami malah nonton bareng sampe lupa sama latihan, akhirnya kami Cuma
latihan 1 sesi hari itu. Bahkan kami mengagendakan untuk nginep dirumahnya
Aisya untuk membicarakan sesuatu sekaligus latihan, tapi apa boleh buat ketika
sudah kumpul semuanya menjadi obrolan yang mengalir, pun dengan malam itu.
Sebuah kerinduan adalah konsekuensi bagi orang-orang yang sudah menjalin cinta,
maka ingin rasanya membayar rindu itu dengan pertemuan-pertemuan yang
berkualitas meskipun akhirnya tetap apa adanya. Ah, konyol sekali semua itu
namun kami hanya ingin berusaha saja untuk memberikan yang terbaik adapun nanti
terkait hasil, kami masih punya kekuatan-kekuatan langit dariNya.
Waktu
terasa semakin jahat, menyiksa, bahkan membunuhku. Satu minggu hanya sedetik
saja, aku harus beranjak. Hikks.. L namun aku
meyakini takkan ada yang sia-sia dari semua ini, tepat tanggal 7 adalah latihan
akbar kedua selama aku disini. Malam itu aku tak bisa membersamai Aisya sampai
akhir, pukul 21.00 harus pulang. Terlalu banyak mendzolimi mamah dirumah juga
kurang baik nampaknya karena beliau juga mempunyai hak atas diri ini, toh besok
kami juga masih bisa membersamai Aisya di TKP langsung. Inilah moment yang
dirindukan, abring-abringan ke ciamis
seperti pawai, tempat bertemu kita tak pernah berubah dari dulu tetap di sekre
sementara kita MA Pnb. Kita belusukan dulu kedalam pasar untuk mencari tempat
kangkungnya Aisya pada waktu itu, kuda-kuda besi kami pun sudah terlatih untuk segera
menyusuri arena balapan kami dulu. Tak banyak yang berbeda dari arena balapan
kami, bahkan kita masih harus berteriek mengingatkan Aisya tentang lampu sen
yang sering sekali ia lupa matikan, yang berbeda adalah kami nggak lagi reptil
karena hanya ada 2 ekor kuda besi. L
Ada
degup jantung yang lebih kencang dari biasanya. Ya, meihat tempat yang megah
itu ada rasa waswas dan cemas bagi kami yang baru tiba pada waktu itu namun
semangat dari mata-mata bergelora sang pemain lainnya meluluhkan semua rasa
kacau itu. Mempersiapkan segala hal untuk latihan menghabiskan waktu agak lama
ternyata, padahal janjiku pada mama bisa pulang pukul 13.00 untuk packing keberangkatan nanti malam. Apa
boleh buat latihan sessi pertama baru dimulai pukul 10.00, lagi dan lagi aku
harus mendzolimi mamahku tercinta. Kami melihat Aisya yang baru, seminggu yang
kami lalui dengan penuh kegajean itu ternyata bukan hanya celotehan biasa. Gaya
berceritanya saat ditungku sudah mulai hilang, suara lembutnya pun sudah mulai
menyesuaikan peran. Aku bisa kembali ke Kota Istimewa tanpa sebuah
kekhawatiran, tapi saat kekhawatiran hilang justru sebuah ketakutan menyerang.
Mungkinkah kan bisa menyaksikan pagelaran agung ini pekan depan? Sessi 1
selesai dan peluk hangat diiringi isak tangis penuh haru dan bahagia dari
kalian (SM) membuang jauh sejenak pikiranku yang amat jahat itu. Ya, disini aku
bahagia dengan segala kerempongan yang selalu hadir. Aku bahagia karena disini
kami tak pernah bekerja dalam sepi, disini selalu bersama.
Ditengah
keriuhan latihan sessi 2 tetiba Aisya mendekat, memeluk erat dan membisikkan
sesuatu dengan suara terseka dan mata berkaca. “Ada rasa lelah saat ini, saat
melihat kalian sangat lelah dengan hari ini.” Ya, latihan dari tadi malam
sepertinya menguras banyak energi dari setiap crew yang hadir. Sakit memang
ketika aku pun harus melihat hal itu, tapi inilah upaya dan usaha kita bersama.
Seketika mutiara dari mata ini balapan berebut untuk hadir dipelipis mata lebih
dulu. Kembali kupeluk erat tubuh yang lusuh itu dan dengan sesegera ku hapus
resahnya, “namun selalu ada rasa lillah yang menancap dalam setiap hati kita
yang takkan menggoyahkannya.” Ya, sejatinya apa yang sedang kami perjuangkan
saat ini hanyalah wasilah untuk sebuah pengabdian padaNya.
Saat bara api itu tak ada yang mau menggenggam
maka kitalah yang harus memainkan bola api itu bukan justru menganggap aneh dan
asing. Ya, teater ini merupakan sesuatu yang sangat langka disini, maka ada
konsekuensi besar yang harus diambil saat kita akan mewarnai dari bidang
tersebut. Peluang dan resiko itu seperti koin uang, semakin besar peluang yang
akan kita dapatkan maka akan semakin besar pula resiko yang akan kita dapatkan
dan sebaliknya. Kita hanya ingin mencoba memberi warna dengan warna lain saja,
agar pelangi itu makin indah dan tidak terlihat kaku salah satulah dengan
inilah kami menyampaikan pesanNya.
Ketika
latihan usai kami meninggalkan wajah lusuh adik-adik terlebih dahulu, mengingat
aku harus terbang ke Kota Istimewa itu dan Aisya yang harus kembali kuliah
esoknya. Gelap..!!!! tak ada cahaya sedikitpun, kami diguyur oleh RohmahNya
melalui air deras yang tak berperasaan ini. Kami tak mungkin berhenti sejenak
saja untuk mencari teduh, karena mengingat waktu yang sudah mengejar-ngejar
kami. Udara dingin menusuk sampai ke tulang berulang kami, ternyata air deras
itu masih ingin bersama kami sampai akhir perjalanan di Panumbangan. Saat kami
turun untuk bertukar pasangan, tetap sajaa guyonan itu tak hilang. Ini adalah
air penghapus lelah keringat hari ini, dipersimpangan ini kami mengakhiri
perjumpaan pekan ini. Tentang pekan depan? Entahlah aku belum bisa memikirkan
hal tersebut karena ada sedikit hal mustahil aku harus kembali dalam waktu yang
berdekatan.
Mamah,
beliau selalu banyak berkorban perasaan karenaku. Harusnya ia memarahiku, tapi
nampaknya air hujan itu menyelamatkanku. Gulita pun menyapa tanpa duka, aku
harus kembali. Pasundan sudah menampakkan tubuhnya untuk menjemputku ke Kota
Istimewa itu. Selama perjalanan pun aku merasa masih ada yang tertinggal di
Ciamis, entah apa itu. Tanpa sadar wanita yang sudah lama sok kuat ini ternyata
menangis. Sedih? Bukan, melainkan ada rasa kecewa.
Aku
seperti orang hilang yang tak mempunyai arah tujuan, ternyata ruh dan hatiku
masih tertinggal. Ya, aku masih mendengar tawa itu disini, aku masih melihat
Aisya dan Kholip disini, aku masih merasakan rempong itu disini, dan aku
seperti tak berada disini. Untuk menjalankan amanah segudang pun hanya jasad
saja yang hadir sehingga semuanya mengalir seperti air tanpa bendungan. Tepat
tanggal 12, pagi itu mendapat kabar kalau aku harus mengikuti rapat bareng
dekanat malam minggu. Semua pun mulai tak karuan, aku ingin lenyap saja. Seakan
terjadi perang dingin dalam diri ini dan entahlah siapa yang akan memenangkan
perang dingin ini.
“Mah,
Na pulang ya sekarang.” Ujarku saat ditelepon ba’da magrib itu.
“Gak
usah bercanda gitu.” Ternyata yang nyahut suara bapak, beliau baru pulang dari
perantauan
“Serius
pak, sekarang Na udah nyampe stasiun Banjar pak.”
“Hmmmm..
pinter yaa, kalo udah di Banjar masa bapak suruh balik ke Yogya.” Jawabnya lagi
Lagi
dan lagi aku nekat kabur begitu saja, semoga ini menjadi langkah terbaik yang
bisa bermanfaat bagi semuanya. Bisa dikatakan inilah titik kelemahanku, ketika
menginginkan sesuatu maka semuanya harus bisa dilakukan dengan cara apapun.
Bahkan saat itu harus mendzolimi temen-temen disana, dengan menolak diajak
rapat bareng dekanat, absen dari hijab day, dsb. Namun semoga saja keegoisan
ini tidak terlalu berdampak buruk bagi semua orang, cukup aku saja.
Kantor GEMA terlihat sudah mengepul
dengan asap pop corn pada siang itu, bu konsumsi (Nuy) sudah riweuh dengan
semua properti nya. Aku sudah siap menjadi “tukang ojeg” untuk bu konsumsi,
kesana kemari mencari semua peralatan untuk konsumsi. Tak cukup dengan satu balikan
saja ternyata, entah salah beli pelastik lah, dus nya kelupaan beli lah, tukang
lemper nya gak ada lah dan semuanya. Kerempongan itu kembali menjadi harian kita
selama beberapa hari ini, aku berasa kembali hidup dimasa 2 tahun lalu yang
merasakan benar-benar tentang makna dari perjuangan dan pengorbanan. Dalam
suasana gaduh ini sama sekali si sam teralihkan dari tanganku, sehingga ketika
ia kembali kubuka ada 50 panggilan tak terjawab dari teman-teman di Jogja. Apa
yang terjadi disana? Ternyata file AD ART GBHO BEM FBS yang saat SU kita bahas
sampai dini hari itu hilang. Jleebbb, untuk saat ini hanya bisa menelan ludah
kering saja. Sesaat sampai dirumah pun segera kubuka beberapa flashdisk yang
digunakan saat SU berlangsung, sampai 5 kali lebih kubulak balik buka hasilnya
tetap saja nihil. Entahlah bagaimana harus mempertanggungjawabkan hal ini kepada
banyak orang, mungkinkah ini ujian atau rahmat dariNya? Aku hanya ingin
berbaiik sangka kepada Allah. T_T
Rasa demi rasa terus saja silih
bergantian dalam benak ini. Bagaimana tidak setelah lama patah hati karena
ditinggal teteh menikah dan kini kami dapat bertemu dalam pertemuan yang
sesingkat-singkatnya dan tidak jelas. Pasangan yang baru pacaran itu pulang ke
rumah hari sabtu pagi dan akan pindahan ke Jakarta tanggal 15, katanya. Artinya
mereka akan pindahan ketika pagelaran. Hmmmmm..... ini bukan hal mudah untukku,
sehingga kegalauan-kegalauan itu kembali merasuki setiap urat nadi dan membuatku kikuk pada
hari itu. Perjalanan dari ciawi sampai kerumah saat menjemput dengan berbagai
macam pembicaraan yang kami perbincangkan di dini hari itu. Aku kembali nekat
dengan menyakiti orang-orang yang selalu memberiku perhatian itu, keputusan
untuk tidak ikut ke Jakarta nampaknya agak menyayat hati. Bukan hanya mamah,
bapak ataupun sepasang yang baru pacaran itu tapi aku pun sakit karena bisa
jadi ini menjadi pertemuan terakhir dalam jangka waktu dekat ini. Namun
yasudahlah, niat pertamaku pulang untuk pagelaran, hanya do’a yang ikut
mengiringi kesana.
Rempongers kembali menyiapkan hal-hal
yang harus dibawa ke Ciamis siang ini. Ditengah semua keriuhan kita
menyempatkan menjenguk saudara kita yang sedang sakit, Titin. Reptil selalu
membuat kami tak bisa berhenti berceloteh saat diatas motor hingga pada saat
itu si ijo hampir saja berciuman dengan truk. Bagaimanapun kondisinya tetap saja tawa itu
tak bisa hilang, rombongan berangkat ke ciamis ba’da ashar sedangkan aku masih
harus pulang untuk berpamitan karena besok ketika harus berangkat ke Jogja tak
bisa bertemu dulu dengan keluarga tercinta dan berangkat menyusul ke TKP ba’da
magrib. Allah begitu paham untuk memberikan kesempatan kepada hambanya agar
belajar ikhlas dan sabar, aku tidak dipertemukan dengan kedua orang yang baru
pacaran itu ternyata karena mereka belum kembali dari Tasik. Sepanjang
perjalanan aku memerhatikan semua motor yang berpapasan denganku, karena masih
ada harapan barangkalai Allah akan mempertemukan kita dijalan namun semuanya
pupus. Hujan deras membutakan mataku, hujan saat itu sama persis dengan hujan
sebelum aku dijemput oleh pasundan pekan kemarin. Semua rasa masih bercampur,
tentang AD ART lah, tentang RKPT yang harusnya ku ikuti malam itu lah, dan
tentang teteh yang tak bertemu dulu dengan adeknya yang unyu ini.
Hitam sudah lengkap menyelimuti
seluruh bumi dan air sepanjang perjalanan meninggalkan dingin yang menusuk
hingga sel darah membeku. Semua rasa tetiba hilang ketika melihat semua crew
yang semangat mendekor dan persiapan glady resik malam itu. Lagi dan lagi
pelukan selalu menjadi obat ditengah rasa yang bersebrangan. Aku mencintaimu
SM, karenaNya. Bu konsumsi masih repot dengan pop corn nya, namun aku harus
beralih tempat kerja kebelakang panggung.
“Lakukan
semuanya dengan hati am, kita masih Lillah kan? Pasti bisa!” bisikanku untuk
Aisya ketika memulai latihan terakhir itu lagi lagi membuat hati bergetar dan berhasil
memancarkan air yang tak terduga dari mata kami. Ahh, terlalu terlihat cengeng.
Namun inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, ketika kita totalitas. Menjelang
pagi dari tanggal 15 glady resik masih belum selsei bahkan sampai ada pemain
yang tertidur saat latihan. Yang sangat kece pada saat itu adalah kita harus
membangunkan Nuy dan Ilin yang baru tertidur satu jam yang lalu untuk pulang ke
Cihaur mengambil konsumsi yang masih tertinggal disana. Luar biasa! Dini hari
itu saat pemain sudah harus beristirahat aku dan Opee melanjutkan tugas untuk
menyetrika kostum para pemain guna meminimalisir kerempongan pagi nanti, kami
nyetrika ditemani Kang Engko dkk yang tidak tertidur malam itu. Tepat pukul 4
pagi kami berdua berangkat ke Masjid Agung, lagi dan lagi aku mendzolimi orang
yang kucinta. Bapak menyengajakan ke Ciamis untuk menukarkan motor karena si
Ijo akan ikut ke Jakarta. Ahh, aku terlalu durhaka.
Waktu begitu cepat sang fajar mulai
menyapa dengan lembutnya. Semua sudah siap dengan posisi masing-masing. Kami
mulai melengkapi semuanya, Nuy dan Ilin bertugas didepan sedangkan aku, Opee
dan Aisya tugasnya dibelakang. Layar. Semua pemain sudah siap dengan penampilan
terbaik mereka. Saat mendengar musik yang mulai beralun jantung ini kembali
berdegup lebih kencang dari biasanya, ini dirasakan oleh semua orang nampaknya
karena ini merupakan pertanda bahwa peserta sudah mulai berdatangan. Aisya
sudah siap dengan kostum dan segala propertinya, hari ini adalah waktu untuk
melihat proses kami beberapa pekan ini. Kami selalu meyakini bahwa hasil takkan
pernah mengkhianati proses, kami tahu bagaimana pengorbanan dan perjuangan
Aisya untuk keluar dari dirinya sendiri dan bersama sama kami saling menguatkan.
“Mulai
semuanya dari sini (sembari memegang tangannya dan menunjukkan ke hatinya),
tarik nafas. Ingat kita masih melakukan semua ini karenaNya, ini latihan
terakhir karena besok takkan ada latihan lagi, siap totalitas mi.” Kalimat itu
membuka hari ini, dag dig dug pemain seakan menggemakan ruangan ini. Satu hal
yang mengejutkan ketika kami harus mengangkat kursi dari belakang panggung
karena peserta membeludak, sontak ini pun menadi ledakan semangat bagi semua
pemain ketika melihat antusias peserta yang banyak.
Jreeeennnggggg....
Para
ibu-ibu yang baru saja selsei menari lagi riweuh berganti kostum saat tembang
sedang dialunkan. Kata-kata semangat bermunculan dari masing-masing pemain. Dan
bu Alis, Opee dan aku pun mulai terbakar dengan semangat-semangat menggelora.
“Semangat,
dihadapan kalian ada 600 orang yang akan kalian dakwahi. Berikan yang terbaik,
totalitas! Anggap saja ini latihan terakhir kita dan besok takkan ada latihan
lagiii.”
Kata-kata
motivasi keluar dari mulut ke mulut. Tibalah pagelaran dimulai.
“Am,
all izz well, ini karenaNya. Lakukan semuanya dengan hati, ini adalah latihan
terakhir maka totalitaslah. Ingat perjalanan kita untuk mempersiapkan ini
semua, berikan yang terbaik.” Sebuah pelukan yang mengantarkan Aisya naik ke
panggung. Adegan demi adegan mulai berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan
aku sangat menikmati peranku dibelakang panggung. Banyak hal-hal unik yang ada,
tragedi mic yang harus lari-lari dari podium kiri ke kanan, para pemain yang
kadang lupa jatah munculnya, mukena Aisya yang tertinggal dipanggung, properti
yang lupa naro entah dimana.
Tawa
dan tepuk tangan peserta membawa crew dibelakang panggung ikut euforia
penonton, kita terhanyut dengan cerita yang dibawakan. Tak jarang ketika ummi
turun dari panggung bu Alis harus menyiapkan tissu untuknya karena make up ummi
luntur oleh air mata tangis. Aku merinding, ada berjuta kebahagiaan diruangan
ini dan saat itu aku benar-benar merasakan kekuatan-kekuatan langit turun untuk
melengkapi apa yang ingin kami sampaikan. Ya, semua pemain sangat berbeda dari
latihan-latihan sebelumnya. Semua berubah drastis, menjadi lebih baik karena
kami selalu meyakini bahwa takkan ada sesuatu apapun yang terjadi melainkan
karena campur tanganNya.
“Aku
akan pergi ke Negri orang, mencari ilmu dan penghidupan. Hingga aku pulang
dengan telunjuk baru, telunjuk yang dengannya aku bisa mengarahkan semua orang
menuju kebaikan. Dan maukah kau bersabar menungguku Kholip? Hingga Allah
mengizinkan, aku menjadi wanita halal bagimu.” Kalimat yang ku dengar itu
membawaku dan Opee berlari kebelakang untuk menyambut Aisya yang turun dari
podium sebelah kanan, kami berpapasan dan saling memangdang. Menunduk
berpelukan dalam tangis yang tak tertahankan, Aisya sudah berhasil memainkan
perasaan banyak orang dan itu lebih dari apa yang kita bayangkan. Ditengah
tangis bahagia itu tetiba sang sutradara kebelakang, “Mia kereennn.” Sambil
teriak. Ganggu kita banget gak sih? Hehee.. kami juga mengakui bahwa sahabat
kami yang bernama Asep yang kadang egois itu berhasil menjadi seorang sutradara
hebat pada hari itu.
Tetiba ada yang menarik Mimi dari
pelukan kami, aku pun hampir lupa kalau dia masih harus naik panggung untuk
menyanyikan soundtrack bareng-bareng. Nuy dan Ilin menyusul kami yang
dibelakang panggung, tangisan bahagia itu berlanjut saat Aisya turun dari
panggung. Meski hari itu ada yang kurang lengkap dari Semut Merah tapi kami
yakin yang jauh disana pun merasakan kebahagiaan hari ini. Yang membuat kami
terkejut, Titin yang hari sebelumnya kami jenguk tetiba ada ditengah-tengah
kami waktu itu. Pagelaran usai, semua selsai. Inilah bahagia yang sederhana
tanpa harus ada syarat makna. Aku tidak menyesal dengan semua keputusan yang
kuambil, berapa banyak pun yang terdzolimi semoga Dia mengerti karena semua
hanya karenaNya. Aku harus kembali ke Kota Istimewa itu malam ini juga, bisa
jadi ini kali pertama untukku saat harus pergi tanpa ada siapapun dirumah.
Banyak hal yang aku dapat dalam
libura ini, karena ini cerita baru kami dalam perjalanan ini. Tulisan diatas
hanyalah sepenggal cerita yang masih ada dimemori karena ketika harus
menuliskan semuanya nampaknya 1 buku pun takkan mewakili seluruh isi hati. Dari
semua kisah yang menarik itu ada satu hal yang membuatku selalu merasa
dihantui, di pagelaran Bidadari Tanpa Telunjuk ini aku hanya merasa kecewa, itu
saja.
Aku
hanya kecewa, itu sajaa..!!!
Aku
hanya kecewa kepada diriku sajaa, aku belum bisa memberikan kontribusi lebih
dalam pagelaran ini, tak bisa satu pun tiket yang keluar dari tanganku untuk
kujual hingga harus menyerahkan uang dengan tiketnya juga, belum bisa membantu
laskar proposal untk berkeliaran kesana kemari. Aku hanya kecewa atas diri
sendiri, kenapa adek-adekku harus bekerja lebih keras, kenapa aku belum bisa
memberikan waktuku seutuhnya, dan kenapa aku harus punya kewajiban lain yang
harus kutunaikan selama persiapan pagelaran.
Ah,
sudahlahh..
Jika
aku terus tenggelam dalam kecewa dan rasa malu maka aku akan kehilangan semua
rasa bahagia, maka terima kasih telah mengijinkanku untuk melakukan apa yang
bisa kulakukan. Terima kasih Pak Sutradara telah memberikanku kesempatan untuk
belajar banyak disini. Terima kasih GEMA, selalu menjadi keluarga yang
menerimaku apa adanya bukan ada apanya. Terima kasih mamah dan bapak yang
selalu berkorban perasaan selama aku terlibat dipagelaran. Terima kasih untuk
adik-adikku yang telah memberikanku sejuta inspirasi baru.
Disini satu hal yang selalu
membuatku berbeda ketika aku berada ditempat yang lain. Disini aku tak pernah
hidup sendiri, dan bekerja dalam sepi. Kalian selalu ada, terima kasih semut
merah. Meski kadang tak sedikit yang selalu mengece tentang kebrisikan kita
namun disanalah kita berproses. Sangat jarang kita menggunakan jargon “Dalam
diam kita bekerja.” Melainkan kita selalu bekerja dalam kondisi apapun atau
bahkan mungkin menciptakan keramaian dalam setiap kerja yang membuat bising
semua orang, namun tak apa karena kita hanya berproses karenaNya saja bukan
yang lain. Selalu saja kalian memberikan energi baru dalam setiap perjalanan,
dan napas kehidupan yang meski kadang sering sekali kita bersebrangan pendapat
dan bahkan tentang segala hal namun disanalah disana kita belajar tentang
kerjasama dan saling menghargai satu sama lain. terima kasih napas kehidupan.
Terima kasih Allah, Kau anugrahkan
hal yang paling indah dalam perjalanan hidup ini, Kau hadirkan aku ditengah
mereka yang bahkan sebelumnya tak kukenal, namun karenaMu ikatan-ikatan ini
semakin menguat hingga aku mengenal mereka bukan hanya sebatas sahabat, kakak
kelas, ataupun adik kelas, melainkan keluarga yang selalu menautkan hati ini
kepadaMu.
Terima kasih Allah, Kau kerahkan
kekuatan-kekuatan langit pada hari itu. Aku menyaksikan langsung KuasaMu dalam
memberika apa yang dibutuhkan makhlukMu bukan apa yang diinginkannya. Engkau memberikan
kesempatan kepada kami untuk membumikan bahasa langit dengan pagelaran itu. Istiqomahkanlah
kami wahai Sang Maha dari segala Maha.
Kerinduan
adalah konsekuensi dari orang-orang yang sudah mencintai maka dimanapun kita
saat ini, mari maknai setiap perjalanan hidup karena masing-masing kita dibumi
ini hanyalah seorang pemain yang sedang menjalankan skenarioNya. Seorang pemain
yang harus totalitas denganperan masing-masing yang telah diamanahkanNya.
Maaf,
aku kecewa..
Andai
mentari hilang dari permukaan maka bulan akan hadir dengan ketenangan. Memetik
setiap rasa yang tak berkesempatan hilang dengan menumbuhkan sejuta warna yang
saling bergantian. Andai saja jantung masih berkesempatan untuk berdetak,
Ijinkan kami memutar pusaran tuk menerjang gelombang, menghalau arus yang kian
menjijikan dengan telunjuk yang mampu menyihir semua manusia untuk tunduk
kepadaNya, menggiring semua ruh-ruh yang merindukan kedamaian, mencabut semua
kotoran-kotoran bumi yang berserakan, menyentuh setiap hati yang kekeringan,
membumikan bahasa langit yang yang Kau titipkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar