Label

Selasa, 19 Januari 2016

JA, maafku..

Menyusur tentang rasa beberapa hari lalu. Pada waktu itu aku berkelana katanya, hal yang sudah tak aneh lagi dilakukan semenjak aku berada di jogja. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk ku beradaptasi mengenalkan hati pada nuansa yang sangat aneh. Tepat hari jum’at pada waktu itu, gelap mulai menyisir kota jogja namun aku dan mini masih belum berangkat untuk pergi ke tempat itu, parangtritis katanya. Ada suasana tak bisa dimengerti sepanjang perjalanan bersama mini, aku menemui lagi rasa itu. Rasa yang dulu pernah ku temui di suatu tempat, sulit aku menjelaskannya tentang rasa itu namun hadir dengan leluasanya.
Angin mencekik setiap insan disepanjang trotoar jalan, empat  kuda besi itu masih melaju dengan sejuta harap cemas yang menyertai. Akhirnya kami bisa sampai ditempat yang dinanti, ada nano-nano rasa. Bahkan ingin rasanya berlari-lari kepantai terus berteriak sekeras-kerasnya bahwa aku deg-degan ada ditengah-tengah mereka.
Allah, aku deg-degan. Bingung harus memberikan ekspresi seperti apa dan bagaimana, hanya hadir sebuah kesadaran bahwa selama satu tahun ini aku hanya pura-pura buta. Tidak tau bagaimana mengekspresikan rasa kepada mereka. Kutemui dan ku salami dan kuperhatikan satu per satu dari semua yang ada disana. Ada wajah lelah, wajah bahagia, wajah ngantuk, wajah yang berseri-seri menyambut kahadiran kami.
Beberapa lama memberi kesempatan untuk jangkrik berlalu lalang sesuka mereka, menunggu kehadiran makanan dan sang pengisi nutrisi hati untuk kita bersama. Nutrisi itu disampaikan dengan sangat mengalir sehingga semua bisa menerima dengan santai dan nyaman meskipun ditengah perjalanan tak jarang ada mata yang terpejam agak lama karena lapar..
Bicara dari sana kesini, sampai jalan-jalan jauh dan akhirnya ada hal menarik yang kudapati lagi setelah sekian lama kehilangannya bahwa ternyata ikatan hati itu tidak bisa diikat dengan kedekatan struktural. Lembaga hanyalah tempat kita bermain bersama, karena sejatinya kita bersaudara atas nama iman. Jalinan kultural yag dibangun akan lebih berasa ketika kita berjalan bersama meskipun tidak dalam satu lembaga. Saling mengerti satu sama lain sudah seharusnya terjalin dalam setiap tangga perjalanan ini.
Kadang momen-momen itu hadir dengan kondisi sederhana namun membekas dalam hati setiap kita. Belum tentu dengan kebersamaan kita di kepanitiaan Semnas, Ice Cream, Simamoru, Rihlah Alhuda atau mungkin Warung Hati akan membekaskan bahagia atas kebersamaan didalam struktural lembaga. Namun bisa jadi ikatan itu akan hadir ketika kita melalui masa dimana berbincang sederhana di warung kopi ataupun burjo dengan membangun momen penting yang notabene dapat memberikan efek yang menyengat. Bisa jadi sederhana tapi terasa beda.
Yaa begitulah, nutrisi itu seakan meresap dengan seksama. Kita kembali melanjutkan apa yang harus kita bicarakan terkait semua hal yang sudah, sedang atau pun akan dijalani, namun waktu memutus semua percakapan itu. Tak terasa sudah tengah malam, hingga sudah saatnya kita memberikan hak untuk masing-masing jasad atas segala lelahnya disaat mentari masih mengajak bersahabat.
Bunyi alarm semua hp membuat bising kesunyian kala itu, disusul dengan suara bising yang sahut-menyahut bergantian untuk membangunkan setiap syaraf dalam tiap diri. Akhirnya jama’ah untuk shalat QL pun sudah terbaris rapi, menghayati setiap alunan imam dan semoga disanalah Dia memberikan lem-lem perekat pada setiap hati dalam barisan ini.
Tak lama angin terus menggelitik membisikkan sayup-sayup kesegaran, kumandang adzan shubuh menggenapkan kekhusyuan hati-hati kami. Menelusur setiap dingin yang dirasa oleh diri
Semua dengan terpaksa harus membuka mata dan menyusuri pinggirang pantai yang menawan,
Maaf selama ini aku hanya membatu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar