Label

Jumat, 27 Oktober 2017

Potret Sahabat



Seperti Umar dan Abu Bakar, seperti mawar dan rerumputan, mungkin seperti itulah aku dan kau. Tentang saling. Tentang pengorbanan. Tentang melengkapi. Segalanya tentang kita.
Di penghujung perjalanan, ada banyak terjal yang kadang tak sempat kita paham. Di akhir pengabdian, sering hadir prasangka yang menggerogoti percaya kita. Namun disanalah aku menemuimu dengan sebenar-benarnya kamu, tanpa topeng yang kerapkali kau pakai di depan khalayak umum.
Tentang potret sahabat.
Dalam selaksa kisah kita berjalan dari keterasingan, hingga aku (sekadar) mengenal namamu dan berjalan begitu jauh tanpa mengindahkan bahwa kau ada di sini jua. Memang semua berlalu dengan begitu saja sampai akhirnya kita dijumpakan di titik ini. Dengan masa yang tak sebentar, kita tumbuh dengan beriringan, saling menopang.
Hai, tanpa sadar seringkali menyelinap rasa yang tak diharap hadir karena semua perangaimu yang membuatku kesal, namun aku juga paham bahwa itulah warna. Tanpa sadar, tak jarang jua kita saling melempar tawa dengan lepas, tak mesti karena senang melainkan mentertawakan kondisi yang memang sedang tidak bersahabat.
Sutradara kita memberi jalan cerita yang unik untuk kita. Kita terjebak dalam cinta yang sangat dalam, entah aku harus menyebut ini ikatan apa. Dari ikatan inilah tumbuh banyak rasa yang berkecamuk, banyak suasana aneh yang asing.
Masa menggerogoti cerita, hingga akhirnya aku mengenalmu dan kau pun memahamiku. Meski banyak hal yang belum aku tau darimu, namun setidaknya kita sudah bisa saling mengeja nama-nama kita dalam robithoh yang kita miinta.
Menemuimu adalah bagai ada di tengah pelangi, sekalipun aku di dalamnya namun sayang aku tak mampu memberi warna seindah warna yang kau beri. 
 Dan tentang kau?
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar