011115
INILAH DIRI KINI.
. . [01 November 2013]
Usia itu seperti titik-titik yang saling
berhubungan. Maka, menjadi kewajiban kita untuk melakukan evaluasi terhadap
perjalanan yang kita lalui selama ini. Dari titik ke titik, bagaikan
menghubungkan dari satu angka ke angka yang lain. Maka perhatikanlah bagaimana
dunia menipu kita atas nama sukses? Sukses yang mana kita maksud? Apakah sukses
yang dikelilingi dunia? Dikelilingi fitnah? Duh, dunia.
Ataukah sukses
abadi yang mampu menjanjikan kenikmatan kekal yang tak ada duanya? Itulah
akhirat.
Jiwa manusia
menyimpan beragam rasa dan suasana yang dibentuk oleh kehidupan yang dihadapi.
Ada senang ada sesdih, ada bahagia ada derita, ada karunia ada musibah. Rasa
dan suasana itu terkadang membuat kita harus bicara dan cerita, juga terkadang
butuh mengadu. Ya, karena rasa dan suasana itu seringkali menuntut kita untuk
lepaskannya lewat cara itu.
Sungguh Allah
memahami betul keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan rahmat-Nya,
maka kita tak perlu heran, jika Allah melaknat orang yang enggan berdoa
kepadaNya, orang yang tak mau mengadu kepadaNya, Allah menyebutnya sebagai
hamba yang sombong. Dia mengancamnya dengan siksa neraka.
Mengadu selalu
ada di stiap zaman dan dibenarkan, karena memang selalu ada masalah yang
seringkali datang mewarnai hidup kita.
Kita tau bahwa
Allah tempat kita mengadu yang paling tepat, tempat kita melepaskan yang paling
benar, tapi kita juga harus tau, bahwa Allah menjawab persoalan kita berbeda-beda.
Kadang disegerakan, kadang ditunda, kdang diganti dengan yang lebih baik dari
apa yang kita minta.
Jadi bersabar dan
bersyukurlah. . .
Dan kini izinkan
diri ini bercerita banyak hal, dan bertanya tentang diri lewat tarian-tarian
jari yang berlomba mengumpulkan huruf hingga menjadi makna yang mampu
menyampaikan rasa dan mewakili apa yang sedang dihadapi, semoga dijauhkan
dari berkeluh-kesah.
Hari ini Allah
kembali memberi sapaNya lewat pergantian usia yang kian matang, usia yang tidak
lagi terbilang anak muda yang seringkali manja dan banyak mengeluh serta
menikmati perjuangan sebatas daya yang dimiliki.
Usia yang kian
bertambah ini meski pada hakikatnya berkurang, kembali membuat diri merenung
banyak hal, usia 22 tahun tak ada lagi tawar-menawar, sudah saatnya matang dan
siap mengabdi, serta bersiaga berikan karya terbaik.
Selalu teringat
beberapa tahun kebelakang, ketika pergantian usia ini menyapa rasanya tak ingin
ada yang tau, tak ingin ada yang mengingatkan, bahkan terkadang enggan ketika
orang-orang ramai mendoakan. Sungguh bukan tak ingin untuk didoakan, tapi rasa
malu terhadap diri lah yang tak bisa dibendung, yang mampu menenggelamkan diri
pada aktifitas sendiri, merenung sendiri, hingga pada akhirnya kuat dan mampu
untuk bangkit dgn sendirinya. Karena terkadang butuh masa-masa seperti itu.
Tapi kini mencoba
lebih bijak, menjalani dengan mengalir, bagai air yang mengalir sesuai dengan
alurnya, tak lagi memikirkan apa kata orang untuk kita, tapi saatnya
mematangkan bagaimana diri ini bisa betul-betul manpa’at untuk banyak orang,
bagaimana agar diri ini mulai menata diri mematangkan langkah untuk masa depan
yang kian nyata, bagaimana agar diri ini makin dekat dengan Sang Penciptanya.
Dan semua itu
harus mulai dari sekarang, dengan berbekal azzam yang membaja, ikhtiar maksimal
pantang mengeluh, perkuat doa dengan cinta tertinggi padaNya.
Yaa Rabb
mudahkanlah. . banyak mimpi terbentang luaaas di usia ke-22 ini.
Engkau yang akan
menjadi saksi atas perjuanganku, dan Engkau sebaik-baiknya tempat ku berlabuh.
Teruntuk
dirimu,Dik. .
Tengah malam
sebelum ku terlelap, dengan sadar deretan pesanmu kubaca dengan jelas, tapi
entah kenapa jari-jari ini enggan untuk hanya sekedar memijit tombol2 Hp yang
sudah sekian lama bersahabat, hanya air mata yang membanjiri meski tak
diharapkan saat itu. Mungkin karena mata ini tahu diri kalau sudah mau 22tahun
mata ini menempel dalam jasad dan memerankan fungsinya untuk melihat, bisa jadi
karena terlalu banyak melihat hal yang seharusnya tidak dilihat. Belum lagi
dengan anggota2 jasad lainnya yang mengadu pada akal akan khilap dan salahnya,
sehingga semua tertumpu pada mata yang harus mengeluarkan rasa sesalnya lewat
titisan air mata.
Ya sudahlah. .
ini adalah bagian anugrah yang harus juga disyukuri, karena Allah masih mempercayai
dan memberikan kesempatan untuk menjemput perbaikan-perbaikan kedepan, dan
menata ulang akan sebuah masa yang menentukan, hendak kemana kaki ini
melangkah??
Dik. .biarlah aku
menjadi diriku,dengan mimpi dan harapan besar yang terbentang luas di depan.
Bukan untuk berkhayal, karena ku tak mau terbelenggu dalam dunia khayal meski
berbaik. Tapi tapak2 itu pasti kan kulalui dengan susah payah, dengan keyakinan
tak kan ada hasil terbaik melainkan disertai dengan ikhtiar terbaik pula,
sedang kita sama2 tau untuk menempuh ikhtiar baik itu tidak akan mudah, akan
ada banyak hal yang harus siap dikorbankan, dan siap dengan berbagai
konsekwensi pilihan.
Dik. . Begitupun
dengan mu, berkaryalah dengan kesungguhan. . temuilah garda kesuksesanmu di
depan sana. . Tebarkanlah cinta terbaik untuk orang-orang disekelilingmu,
jadilah orang besar yang mampu membesarkan Dien-mu dik. .
Jangan sampai ada
rasa sesal yang membelenggumu, karena jalananmu masih panjang, dan peluang yang
kau hadapi masih sangat besar.
Mulailah dari
sekarang. . !!!
Karena ternyata
ada orang2 yang jauh lebih hebat yang telah membuat kita hebat, yang kini
sedang menanti dan menyaksikan perjuangan kita untuk sampai pada tujuan
akhir yang dinanti, apa yang akan kita
berikan di penghujung nanti???
Tak cukup hanya
dengan sebuah kesadaran, akhlaqul karimah udah menjadi barang tentu yang harus
kita tanamkan, gelar sarjana?? Tak sudi rasanya bertahun2 hanya untuk
memperoleh titel saja.
Jadi apa kelak
yang bisa kita banggakan dan persembahkan untuk orang2 tercinta kita??
Mari tegaskan
diri dari sekarang, persiapkan karya terbaik. .
Dik. . ingat
pula, dua mujahidah kita akan menjadi tanggungan kita kedepan, mereka akan
menjadi generasi terbaik yang akan berlomba mengumpulkan bekal keabadian,
karena Cita kita untuk kembali berkumpul di Jannah’NYA tak hanya sekedar kata,
tapi mari kumpulkan bekal itu dari sekarang.
Jadilah kita
saudara yang membanggakan untuk keduanya, teladan yang baik untuk keduanya, dan
penyokong serta penguat dalam melewati perjalanan panjang kedepan. .
agar kelak mereka
jauh lebih baik dari kita, karena mereka akan banyak belajar dari kita,
kesalahan dan kekurangan yang pernah kita lakukan jangan sampai terulang oleh
mujahidah2 kita.
Entahlah hendak
kemana arah pembicaraan ini, yang jelas sekarang mari bergegas, mari
bersiap-siap, kencangkan ikat pinggang, cek seluruh perlengkapan, karena kita
akan berperang melawan berbagai hambatan yang akan melintang dalam mengayun
langkah menjemput kesuksesan.
Jangan lupa. .
kokohkan simpul2 tali antar kita, Perkuat doa dalam setiap sujud kita,
perbanyak interaksi dengan’NYA~> Sang Khaliq tempat kita kembali.
Salam penuh Cinta
dariku. .
Salam Perjuangan
menjemput keridhoan hakiki. .
Salam Kerinduaan
yang melahirkan kuatnya Doa. .
Salam keselamatan
dan ketentraman hati. .
Untukmu adiku
Ikatan kita tak
sekedar tali keluarga
Tapi tali Allah
atas keluarga kita lebih kuat dari apapun.
[Bidadari pertama
dari 4 bidadari Syurga]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar