Kisah fiktif ini akan semakin menarik menyeruak ke ruang alam yang makin dalam..
Karena menjadi sebab adalah yang sesungguhnya
Kau sudah memahami sampai sejauh ini, jangan biarkan aku menjadi sebab kepergianmu. Karena menjadi sebab adalah mencari kesungguhan. Aku ingin menjumpaimu dalam kedamaian, mengenalkanmu pada ceritaku yang makin hari tampak makin tak karuan. Sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik diam sedang aku mengetuk pintu yang tertutup rapat? Sejauh mana aku harus mencari diammu? Selama apakah kau menyembunyikan rindu?
Karena menjadi sebab adalah yang sesungguhnya
Kau sudah memahami sampai sejauh ini, jangan biarkan aku menjadi sebab kepergianmu. Karena menjadi sebab adalah mencari kesungguhan. Aku ingin menjumpaimu dalam kedamaian, mengenalkanmu pada ceritaku yang makin hari tampak makin tak karuan. Sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik diam sedang aku mengetuk pintu yang tertutup rapat? Sejauh mana aku harus mencari diammu? Selama apakah kau menyembunyikan rindu?
Hai kau, aku tak ingin menjadi
sebab.
Maka semembisu apapun kau, aku
akan menyelami setiap rasa yang terselip. Membukakan setiap luka untuk menemui
sepenggal rasa yang sempat tersemat. Sudah sejauh ini, dan aku tak mungkin
meninggalkanmu dalam setengah rasa yang tertinggal. Biarkan aku menjaga rasa
dalam sekelebat amarah yang seringkali kau ucap.
Ijinkan aku menyimpan rapi rindu
yang kau tinggalkan dengan sejuta kepedihan.
Diammu adalah pilihan sikap
terbaik yang telah kau putuskan, haruskah jejakmu menjadi pilihku jua? Seperti
harus menemui halilintar dibawah matahari jika aku beriring dengan jejakmu.
Kau tetaplah jadi kau yang tak
bertopeng.
Aku paham maksud kata dalam
setiap diammu, aku mengerti setiap eja dalam bisu, aku hafal setiap nada dalam
sendumu, aku mendengar meski kau hanya berbisik padanya bukan aku, aku mampu
mengejawantahkan maksud amarahmu, namun maaf aku alpa dengan rasa.
Semoga menjadi jalanmu untuk
menemui makna, tentang rindu yang semakin candu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar