Terbuai dalam sebuah alunan indah
disepanjang perjalanan, hingga menjadikan diri berkelana terlalu jauh. Apa yang
sedang dipijak, bahkan mungkin aku lupa. Bagaimana cara menghalau kicau,
mungkin aku hanya terpana. Lantas nyiurnya menggetarkan begitu saja, menggiring
indah sebuah kalimah rendah. Apa yang ingin kau hiraukan saat semua tak kau
sentuh? Bagaimana jiwa meratap lemah, jika kita mampu bergandengan bersama
menuju hal yang ingin kita kehendaki. Namun sampai saat ini aku masih menanti,
kemana air itu tumpah. Aku sudah menemukan satu muara, dan milikmu? Masihkah
membeku? Atau botol-botol itu yang menjadikan airmu membeku seketika? Entahlah
dik, hanya saja kau harus tahu bahwa kadang kekhawatiran-kekhawatiran itu selalu
berkeliaran begitu saja. Inikah efek karena saya kakak dan adik yang tidak
mempunyai saudara laki-laki, atau entahlah..
Dik, saat harus menanyaimu terus-menerus maka aku
seperti menjadi seorang reporter. Aku tak mampu memahamimu lebih dalam jika aku
hanya menjadi reporter saja, namun aku masih meraba mencari hal yang paling
tepat untukmu meski sampai saat ini masih terkaku-kaku. Tak apa aku hanya
sedang mencoba untuk tidak menjadi seorang reporter saja untukmu.
Dik, mungkinkah aku salah jika aku mengira kau
masih malu padaku? Atau aku yang menjadi sosok terlalu menakutkan untukmu?
Sehingga kau masih enggan berbagi beban denganku. Ohh, aku melupakan sesuatu.
Betapapun tidak, kita memang belum pernah kenal sebelumnya bukan, hingga memang
tak ada alasanku untuk mengklaimmu dengan panggilan adik agar kita bisa hidup
normal selayaknya sebuah keluarga. Mohon maaf aku bukan kakak yang selayaknya
kakak mungkin, hingga kau enggan.
Dik, melihatmu seperti melihat diriku sendiri. Ya,
aku sedang bercermin. Kini aku tahu dan bahkan mengalami apa yang dulu kakakku
alami jua. Atau bisa jadi inilah yang sering disebut karma apa yaa..
Dik, aku tak ingin menjadi penghambat bagimu. Jika
dulu kau minta untuk memberimu bekal saat kau ingin menuangkan, maka aku
mencoba untuk memberikan itu. Namun sediktpun jangan kau salah paham, karena
aku tak ingin menjadi pendikte, hanya mencoba melakukan apa yang dulu kau
pernah minta saat kita akan berjalan perlahan. Jika aku hanya seperti menjadi
seorang pendikte, maka akan kubiarkan kau mencari rangkaian huruf sendiri meski
tak sesuai dengan yang kau inginkan dulu.
Dik, aku benar-benar paham betapa kau sangat
kelelahan hari ini, kemarin, dan esok yang akan datang. Kadangkala aku pun masih
kikuk untuk berhadapan denganmu. Ingin aku ungkap semua raut wajah lelahmu,
namun aku tau kau enggan dan tak mungkin. Hingga akhirnya aku hanya mampu
meminta kekuatan langit untuk membantumu dalam melaksanakan segala hal.
Dik, apakah sampai saat ini kau masih merasa
kesepian? Aku ada, tapi mungkin aku terlalu sering meniadakan diri dihapanmu
hingga kau kikuk dik. Aku ingin selalu berucap, aku disini. Apa yang bisa aku
bantu untukmu, ingin selalu kucari seribu cara agar kau tak terluka dik. Tapi
justru itu yang membuatmu sakit apa yaa.
Dik, jika suatu saat nanti aku tak lagi disini
maka janganlah kau menjadi kami. Namun jadilah lebih baik dari ini, dari apa
yang kau lihat dan apa yang kau rasakan. Entahlah apakah aku mampu menjadikan
semua ikatan ini akan terus seperti ini. Aku paham aku belum mampu menjadi
kakak yang selayaknya kakak. Maka aku ingin memohon ampun padaNya dan meminta
maaf padamu atas segala kekeliruan yang hadir dari diri ini.
Dik, bertahanlah sekalipun pahit. Air tumpah yang
sesekali kau sampaikan padaku, jagalah baik-baik meski kau sudah tak
mempercayakannya padaku lagi. Hadiah dari Allah yang kau ungkapkan itu, selalu
resapkan dalam sukma agar kita tak lupa cara bersyukur kepadaNya. Aku paham
betapa kau tersiksa disetiap kisah yang kadang kita ciptakan sendiri, namun
tetaplah bertahan dik, sejenak menanti. Bertahanlah, dan siapkan pasokan sabar
tanpa batas. Mungkin kau sudah sangat bosan mendengar ungkapan itu, namun jujur
itulah nasihat seorang kakakku yang selalu menjadi penguat bahwa Allah selalu
membersamai dalam setiap proses yang kita lalui. Jangan sampai kita membatasi
kesabaran kita, dan terlampau khilaf dengan sebuah kesyukuran.
Dik, meski kadang aku sadar jika apa yang kuminta
tak selamanya kau harapkan. Selalu saja aku ingin kau begini, kau begitu, kau
harus ini, kau harus itu, kau jangan begini, kau jangan begitu. Meski kadang
tanpa kutahu bahwa kau terluka dengan segala pinta dan ucapku. Namun sedikitpun
kau tak mengungkapkan sesuatu apapun, melainkan kau menjawabnya dengan tindak
nyata.
Dik, saat ini hanya mampu melihatmu beraktifitas
normal saja sudah menjadi kebahagiaan bagiku. Karena kalian salah satu sumber
bahagia dan inspirasi yang Dia hadiahkan padaku dibumi ini. Mohon maafkan aku,
atas nama kakak.
Dik, kini seringkali aku tak percaya bahwa kau
sudah sedewasa ini.
Menguatlah, bertahanlah, dan bersiap siagalah..
Allah membersamai dalam setiap prosesmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar